Wednesday, September 3, 2014

Review Asuransi Kesehatan Cashless (Sistem Kartu)

Dear temen-temen,

Terima kasih banyak ya sudah berkunjung ke sini :)

Saya hanya ingin memberitahu, bahwa, setelah mempelajari, kini saya mantap untuk mengumumkan bahwa saya TIDAK mengambil asuransi apapun.

Alasan paling utama: saya BOSAN. Bosan bikin perbandingan hanya untuk menemukan bahwa akhirnya semua sama saja. Semua cuma permainan. Nanti saya jelasin di bawah. Ketebak banget lah pokoknya.

Tadinya saya bahkan udah buat 2 review lagi. Yang satu ngebandingin tipe asuransi yang semua dibayar sesuai tagihan, dan yang kedua untuk tipe santunan/non-kartu. Hampir-hampir saya post.

Alasan kedua, saya MALAS keluarin uang segitu banyak. Mahal. Not worthy.

Alasan ketiga: ASURANSI ITU HARAM.

Tadinya saya juga gak percaya. Masa sih niat baik untuk berjaga-jaga dibilang haram? Tapi akhirnya, setelah
- semua ulama meyakinkan saya bahwa asuransi memang haram
- ngeliat sendiri, dan
- alhamdulillah ngalamin sendiri rasanya dikasih proteksi dan berkah yang..... Beyond words... Tanpa asuransi apapun...

Saya semakin yakin dan mantap.

Ini ringkasan kenapa asuransi haram. Gak hanya ulama Indonesia aja, lho, yang ngomong. Ulama luar juga. Semua sepakat haram.

Asuransi mengandung unsur:

  1. Judi
  2. Gharar / gak jelas
  3. Riba 
  4. Zhalim
  5. Batil


JUDI

Asuransi memiliki risiko (1) pembayaran atas sesuatu yang belum terjadi, (2) rugi tanpa alasan, dan (3) meraup untung tanpa usaha.

Dalam masa pertanggungan, kita bisa sakit, bisa juga nggak. Ini kan spekulasi banget. Dan salah satu pihak pasti ada yang rugi. Persis judi beneran.

Kalo kita sehat, kita rugi. Udah bayar premi banyak. Ini namanya risiko rugi tanpa alasan. Sebaliknya, kalo kita sakit, kita meraup laba gak pake kerja. Perusahaan asuransi yang rugi. Gak ada yang adil dua-duanya.

Jika kita sakit, perusahaan asuransi terkena risiko pembayaran. Makanya mereka akan berusaha sekuat-kuatnya supaya pembayaran klaim sulit, atau dikurang-kurangi jumlahnya, dengan berbagai syarat dan ketentuan, ya kan?

Ini semua sifat-sifat judi. Dan judi itu haram.


GHARAR

Artinya gak jelas. Satu, dari sisi waktu. Kapan terjadinya? Dua, kejadian yang diklaimkan. Derajat sakit/celakanya yang kayak apa? Ringan, parah, atau meninggal? Tiga, klaim yang didapat. Ini juga bergantung dari poin dua, karena tergantung kejadian. Kalo parah, ya lebih banyak daripada yang ringan.

Ketidakjelasan klaim juga tercermin dari jumlah manfaat klaim yang didapat nasabah seringkali tak sesuai dengan yang dijanjikan.

Transaksi dalam Islam itu harus jelas dan transparan semua. Barangnya, jumlahnya, kualitasnya, lokasinya, cara pembayarannya, pihak-pihaknya, ketentuannya, SEMUA harus jelas. Ada satu aja yang gak jelas, gak boleh.

Transaksi gak jelas (gharar) itu haram.


RIBA

Ini yang paling berat dosanya.

Ada 2 jenis riba. Pertama, riba fadhl. Barang ditukar dengan barang yang sama, tapi jumlahnya lebih banyak. Dalam hal asuransi, "barang" yang ditukar ini adalah uang. Riba jenis ini adalah uang yang DITERIMA NASABAH jika klaim yang didapat lebih besar dari seluruh premi yang dibayar.

Misal sudah dua tahun ikut dan bayar premi 6 juta. Pas kecelakaan, total tagihan rumah sakit dibayarkan 10 juta. Nah yang 4 juta itu riba.

Singkatnya, nuker duit pake duit. Pembeli (nasabah) membeli dengan uang (berbentuk premi), untuk mendapatkan uang yang lebih besar (berupa pembayaran klaim dari perusahaan asuransi).

Riba kedua adalah riba nasi'ah. Sebenernya riba nasi'ah ini secara historis artinya pembebanan bunga karena si peminjam telat bayar. Ini yang jelas disebutkan dalam Quran. Jadi intinya karena ada penundaan pembayaran. Nah, sama kayak di asuransi. Nasabah dikasih uangnya nanti, kan, kalo udah kejadian. Bukan langsung saat bayar premi. Delay waktu ini yang membuatnya jadi riba nasi'ah.

Selain itu, premi-premi asuransi pasti akan diputar untuk mendapatkan bunga. Ini dobel riba nasi'ah-nya.

Sekedar info. Riba yang paling ringan aja dosanya sama kayak (maaf saya juga gak suka tapi saya harus tulis karena setara hukumnya).... Ah ga jadi saya tulis deh... Tonton aja nih video singkat 6 menit yang cakep banget bikinnya. Dari situ kita akan tau, bahwa riba saja sudah cukup jadi alasan kuat.

Riba gak cuma di Islam doang. Di agama Kristen banyak, bahkan Hindu dan Buddha pun ada.


ZHALIM DAN BATHIL

Zhalim artinya gak adil, sewenang-wenang, salah. Batil artinya salah. (Yang bisa bahasa Arab mohon koreksi.)

Nguras duit secara 'pintar'. Banyak banget cara supaya uang kita keluar. Dan saat klaim, nasabah tak pernah bisa membela dirinya.

Betapa banyak kasus, kita pasti udah sering denger. Proses klaim sulit. Pas bisa klaim, jumlahnya gak sesuai. Mau ambil 'tabungan' gak bisa. Pas bisa, banyak dipotong. Apa-apaan sih ini?

Unit link, selama 5 tahun sebagian besar premi yang kita bayar akan menguap untuk biaya akuisisi, administrasi, dan pengelolaan investasi. Kita gak boleh ambil (padahal katanya nabung). Mesti sampai tahun tertentu. Dan kalo sudah mencapai tahun itu mau diambil, nanti kena biaya lagi.

Konvensional: premi hangus.

Penguapan premi demi beragam biaya dan main hangus-hangusan itu cara yang batil, lho. Rugi di nasabah. Gak boleh ambil uang pihak lain. Yang bener, di Islam itu semua pihak harus setara. Untung dibagi hasil, rugi juga ditanggung bareng.

Premi gak hangus? Memang ada, tapi mahalnya naujubila. Nguras duit lagi dong.

Lalu klaim gak sesuai. Teman saya di Dharmais udah jadi nasabah asuransi kesehatan XYZ selama 10 tahun lebih. Suatu hari dia klaim manfaat penyakit kritis kanker sebanyak 20 juta per bulan, sesuai polis. Ternyata, yang dikasih cuma 10 juta. Ini cidera akad namanya. Khianat.

Asuransi mobil, selalu ada biaya pembuatan klaim 300.000. Kalo klaim 5 juta, kita jadi cuma dikasih 4,7 juta. Lagi-lagi gak sesuai.

Terlalu banyak syarat, formula perhitungan yang rumit/sulit dipahami/nyusahin, tidak tepat janji, dan lagi-lagi memaksa kita untuk keluar duit terus tanpa bisa menuntut keadilan.

Sekedar info, makan harta (uang) orang lain dengan cara yang batil (jelek, gak adil) udah diwanti-wanti di An-Nisaa ayat 29.

Intinya, masih banyak hukum-hukum Islam lainnya yang dilanggar oleh asuransi (dan produk-produk finansial lain). Tapi, itu pun rasanya sudah lebih dari cukup.



* * *


Dari pengalaman saya, asuransi, kredit, saham-saham di usaha gak jelas/gak syariah, semua membuat kita jadi teruuus menerus berkutat sama angka. Seolah-olah rejeki cuma duit doang.

Asuransi bikin kita lupa sama afterlife (kalo gak boleh saya bilang "akhirat" karena terlalu religius). Saking mikirin yang di dunia, jadi lupa ntar kalo meninggal, kita mau jawab apa di dalam kubur. Yang sekarang aja gak yakin. Apalagi kalo ditambah ambil asuransi dan hutang kredit yang tenornya bertahun-tahun.

Yang di otak kita jadi cuma duit terus. Pusing mikir asuransi, cicilan, duit kurang, hutang sini tambal sana. Gak kelar-kelar.

Keluar deh dari semua itu. Keluar secepat mungkin. Sistem-sistem ini membuat kita makin terlilit hutang dan riba. Hati dan hidup jadi gak tenang.

Solusinya? Nabung aja biasa. Alokasikan dana khusus untuk kesehatan. Atau nabung emas batangan. Perbanyak sedekah. Tahan keinginan (=sesuatu yang, kalo kamu nggak punya, NGGAK akan bikin kamu mati atau sakit secara fisik.)  

Asuransi boleh, tapi yang kayak gini, mirip dagang biasa aja.

Dan inget, kita punya Allah.

Allah jauh lebih berkuasa daripada perusahaan keuangan. Dan mahabenar janji-Nya.

Saya tau ini kedengeran basi. Well, silakan. Tapi kalo tertantang untuk lebih berani, ikutin dan buktiin. Silakan liat sendiri sistem siapa yang basi.

1. Stop yang haram

  • Tutup asuransi. Ganti sama sedekah dan yakin Allah sebaik-baik Penjaga dan Pelindung. Rugi besar? Gak apa-apa. Anggap aja bersihin dari dosa riba. Jangan diterusin preminya. Lagian kebutuhan masih banyak.
  • Lunasi hutang dan cicilan. Jangan percaya hutang produktif. Hutang itu konsekuensinya besar dunia-akhirat. Lunasin. Ambil lagi harga diri kamu sebagai manusia bebas. Baca ini, ini dan ini video singkat untuk solusinya.
  • Tutup reksadana dan saham non-syariah. 
  • Stop following LambTur dan sejenisnya. Ini serius. Kamu mau timbangan dosa kamu nambah di hari kiamat gara-gara orang-orang yang ga ada hubungannya sama kamu? Unfollow sekarang. Jangan mau makan bangkai

2. Perbanyak hal-hal baik

  • Azan langsung wudhu dan shalat. Langsung! Laki ke masjid. Jangan tunda. Kamu udah dipanggil ama Dzat yang megang nyawa kamu.
  • Perbanyak doa. Minta sama Yang Maha Mendengar dan Mengabulkan Doa.
  • Perbanyak sedekah. Di waktu lapang maupun sempit. Percayalah semua diganti berkali-kali lipat. Dan gak hanya dalam bentuk uang. Tapi jauh lebih besar daripada itu. Kesehatan, ketenangan hati, dikasih jodoh yang saling nyokong dalam iman, keluarga rukun dan tenteram, anak-anak nurut gampang diatur salih-salihah, ... Ingatlah bahwa banyak rizki yang tidak kita sadari. Tangan masih bisa ngetik di keyboard? Mata masih bisa melihat? Apakah itu bukan rejeki? Mau dikasih 1 miliar tapi jempol kamu dipotong dua-duanya? 
  • Berbaktilah yang sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya pada kedua orangtua. Mereka pintu-pintu surga. Dan pintu rejeki kita. Siap secepatnya saat orang tua manggil nama kita. Layani layaknya abdi ngelayanin raja. Lower your wings of mercy unto them, lingkupilah orangtua dengan perlindungan dan kasih sayang sebagaimana induk burung melebarkan sayapnya untuk melindungi anak-anak mereka. Lembutkan ucapan. Sabar. Jangan malas. Percaya sama saya. Gak akan terasa nyesel sampe kita ngeliat mereka pake kain kafan. 
  • Silaturahmi. Siapa ingin rejeki diperluas, sambunglah tali silaturahmi, sering denger hadits itu, kan? Dan itu amat amat benar. Sering-sering ketemu orang-orang yang kita tau akan nunjukin kita ke jalan Allah. Yang baik-baik. Yang taat-taat. Tinggalin dulu temen yang hobi gosip dan boros di mall. Inget, kamu maunya dapet pahala dan rejeki. Bukan dosa.
  • Bersyukur. Nanti Allah akan cukupin. Yakin.


Satu lagi yang penting. Baca Quran, satu ayat aja sehari. Gak usah satu juz, tapi SATU AYAT aja. Target cukup segini aja. Mau jadi overachiever? Silakan banget! (Emang itu tujuannya, makanya target 1 ayat aja. Secara psikologis, melampaui target akan membuat kita makin bersemangat, kan!)

Baca hadits, satu aja sehari. Kita akan dapet ide-ide untuk menjadi muslim yang lebih baik. Ini salah satu app Android favorit saya.


* * *


Temen-temen, sebagai penutup, saya bukan orang suci. Saya masih banyak dosa. Dan juga masih belajar. Seringkali saya ngerasa malu sama Allah. Udah dikasih banyak banget, padahal masih gini-gini aja.

Semua saya tulis berdasarkan pengalaman. Bahwa janji Allah itu benar. Saya sayang sama temen-temen.

Sebagai sesama muslim, saya ingin temen-temen bisa merasakan dan mengalami sendiri indah dan nikmatnya berada dalam lindungan Allah. Pasti bisa.

Jangan takut. Yakin Allah sayang sama hamba-Nya yang nurut. Yakin bahwa ketenangan hati itu hanya bisa didapat dengan mengingat Allah.

Biarlah postingan asuransi ini tetap terpampang di sini. Supaya yang baca tau bahwa sistem kayak gini udah saya tinggalkan. Dan bahwa hitungan Allah JAUH LEBIH PASTI KEBENARANNYA dan JAUH LEBIH BERLIMPAH.

Terima kasih, temen-temen. Saya selalu mendoakan kebaikan di dunia dan di akhirat untuk temen-temen semua yang udah baca. Aamiin.

Doakan juga ya supaya timbangan dosa saya karena pernah menulis review asuransi ini dihapuskan oleh Allah Ghafururrahiim. Statistiknya sudah hampir 17.000, ditambah postingan lain 21.000. Sungguh angka yang... :'(  Saya gak sanggup mempertanggungjawabkan dosa 38.000 orang di hari kiamat :'(

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa-illam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunanna min alkhaasiriin.

Terima kasih banyak, ya, temen-temen. Saya sedih sekali. Abis ini saya mau shalat dulu biar ilangan dikit :'(

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.

Jakarta, 2 April 2017




== UPDATE TAMBAHAN ==



SEPOTONG FAKTA

Beberapa hari lalu saya membaca artikel ulama luar tentang asuransi dalam islam. Tak sengaja saya melihat tulisan di kolom komentar: "Insurance is part of the Dajjal system and is a way to make money on people's fears." Ini mengejutkan banget. Kenapa saya gak pernah kepikiran?

Teman yang pernah ikut seminar Pak TD*, motivator marketing nasional, memberitahu saya bahwa beliau pun mengajarkan, motivator pembeli yang paling efektif adalah rasa takut. Saya jadi ingat. Tahun 2008 saya pernah meriset secara lokal tentang rasa takut ini. Istilahnya fear appeal. Hasilnya, rasa takut merupakan faktor penentu utama sikap (dan tindakan) kita terhadap sesuatu. Konsisten dengan riset-riset sebelumnya.

Dan teori fear appeal terus terbukti sampai saat ini. Artikel ilmiah "Appealing to Fear: A Meta-Analysis of Fear Appeal Effectiveness and Theories" bulan Oktober 2015 di kolom berita American Psychological Association (APA) menunjukkan, hingga kini rasa takut tetap efektif.



"Making money on people's fear" membuat saya penasaran mencari daftar perusahaan asuransi terkaya di dunia. Ini hasilnya dari Wikipedia (dari Forbes Global 2000).



Berkshire Hathaway 210.8 miliar dolar AS. Ada yang tau itu berapa rupiah?


Rp2.808.699.200.000.000, atau DUA RIBU DELAPAN RATUS DELAPAN TRILIUN enam ratus sembilan puluh sembilan miliar dua ratus juta rupiah. Berkshire Hathaway bermarkas di Amerika Serikat. Konglomerasi ini juga selalu ada dalam daftar 10 perusahaan terbesar asuransi di sana.

Berikutnya, AXA 147.5 miliar dolar AS. Mau dihitung rupiahnya?


Rp1,964,995,000,000,000, atau SERIBU SEMBILAN RATUS ENAM PULUH EMPAT TRILIUN sembilan ratus sembilan puluh lima miliar rupiah.

Mungkin ada yang tau APBN kita berapa?



Bahkan pendapatan negara kita aja kalah :')

Keliatan kan, siapa yang untung. Jelas bukan kita para nasabah lah ya :')  Duit kita segini-gini aja kok :')

Mau liat yang di Indonesia? Silakan baca publikasi dari KPMG Indonesia berikut.


Analisisnya gak main-main. Yang nulis orang pinter semua. Klik DI SINI untuk download dan liat sendiri angka-angkanya.

Belum tau KPMG? Itu salah satu dari the Big Four auditor terbesar di dunia, selain Deloitte, EY, dan PwC.

Baiklah, sudah cukup tentang making money on people's fear.

Tinggal kita renungkan lebih dalam. Saya berdoa semoga Allah senantiasa ngebimbing kita semua ke jalan-Nya. Aamiin.











=========================================================
POSTINGAN LAMA MULAI DI BAWAH INI.
INI SISTEM YANG SUDAH SAYA TINGGALKAN.
==========================================================




Buat yang lagi nyari asuransi kesehatan, saya mau share review 5 asuransi kesehatan yang pernah saya survei.
  1. Allianz AlliSya Care
  2. AXA Smart Care Executive
  3. AXA Mandiri Kesehatan Prima
  4. Lippo Health+
  5. Manulife ProHealth
Saya hanya fokus ke sistem cashless (pakai kartu). Supaya saya bisa langsung masuk RS tanpa bayar di depan. Lebih nyaman, kan? :)

Semuanya asuransi kesehatan yang standalone. Untuk asuransi kesehatan sistem cashless yang digabung dengan asuransi jiwa, akan saya posting setelah ini. (InsyaAllah)

Kami keluarga muda dengan satu anak. Jadi preminya ditotal untuk bertiga.

Oh ya. Tulisan ini bakal agak ekstensif. Alias panjang. Kita punya 3 tabel perbandingan.
But it's worth it. Trust me :)

Okay here goes.


Tabel 1. Ringkasan manfaat

Ini adalah besarnya uang (manfaat) asuransi yang akan diberikan jika terjadi apa-apa sama kamu.



Kalau kamu mau beli asuransi, coba deh petakan apa-apa dan berapa aja yang akan kamu dapat dari harga yang kamu bayar. Dengan tabel seperti ini, kamu bisa lebih obyektif. Dan lebih money-savvy. Kamu mau dapat benefit terbesar, kan? :)  Silakan unduh template-nya di sini. Nanti isi sendiri ya. You're welcome :)

Nah. Ini pendapat saya setelah membandingkan semuanya.

Winner AXA Mandiri Kesehatan Prima. Hands down. Semua dibayar sesuai tagihan! Gak perlu repot mikirin limit per item dan printilannya. Limit tahunan juga gede banget sampe 2M. Perawatan radioterapi dan kemoterapi kanker, sama cuci darah pun dicover. Mantep deh. Tapiii mahal :)

Second best AXA Smart Care Executive. Ini juga asik. Semua item dicover hingga 70 juta per ketidakmampuan. (Artinya, kalo kamu dirawat di RS, dokter dicover sampai 70 jt. Obat sampai 70 jt. Lab sampai 70 jt. Operasi sampai 70 jt.) Udah lumayan banget sih. Dan lebih murah daripada AXA MKP :D  Limit tahunan agak kecil, hanya 200 jt.

Third best Allianz Allisya Care. Limit untuk operasinya paling besar setelah AXA MKP dan AXA SCE. Limit tahunan tak terbatas! Plus meng-cover perawat pribadi di rumah.

Decent Lippo Health+. Murah meriah! Semua hal penting sudah ter-cover, meski gak setinggi Allianz. (Eh, malah biaya aneka perawatan yang obat lab dll lebih tinggi dari Allianz tuh.) Untuk tiap event non-bedah maks 36 jt, event bedah 72 jt. Limit per item tahunan tak terbatas. Ini pilihan terjangkau buat orang-orang kayak saya. Yay!

Rock bottom Manulife ProHealth. Lowest benefits. Pricey, too


Tabel 2. Penyakit yang dicover

Kamu perlu tahu dua hal ini dulu sebelum baca tabelnya.
1.     Penyakit (pre-)existing
2.     Penyakit kritis, atau penyakit khusus

Penyakit (pre-)existing adalah
  • Semua penyakit, luka, atau kondisi medis (dalam tubuh kamu yang bikin kamu jadi sakit)
  • yang pernah didiagnosa
  • atau butuh perawatan medis
  • yang sudah menunjukkan gejala yang seharusnya sudah disadari oleh kamu
  • sebelum polis berlaku
  • tanpa memandang telah dilakukan perawatan atau belum
Pendeknya, ini penyakit yang udah pernah, atau sedang ada di tubuh kamu saat ini.

Penyakit kritis atau penyakit khusus adalah
Daftar beberapa penyakit yang emang gak dicover aja sama asuransinya. Ada yang gak dicover selamanya, tapi ada juga yang hanya selama masa tertentu. (Masa ini namanya masa tunggu.)


Kalo ada penyakit di atas yang sedang kamu derita, atau sudah pernah kamu alami, itu akan masuk sebagai pre-existing disease. Kamu harus melewati masa tunggu terlebih dulu supaya bisa dicover sama asuransi. Dan please, please banget. Jangan males nyari penyakit kamu di list yang panjang tadi. Kalo ada istilah yang gak ngerti, langsung gugel. Siapa tau itu penyakit yang tanpa sadar sedang kamu derita.


Misal, "hallux valgus" (no. 15 di Lippo Health+). Itu penyakit di mana jempol kaki  kamu bengkok ke arah telunjuk kaki. Ini bikin tulang di pangkal jempol kaki jadi menonjol keluar. Padahal itu harusnya satu garis lurus. Dan kalo kena sepatu bisa lecet. Biasanya ini dialami cewek-cewek. Penyebabnya: (siap-siap gak terima kenyataan) Pointed shoes. Yes. Sama. Saya juga nggak terima :’(


Masih berpikir itu bentuk normal kaki cewek? Hmm, pikir lagi. Apakah waktu bayi kita dilahirkan dengan jari kaki kayak gitu? Coba visualisasikan deh. Ya kan? Ya kan? Ya kan!

Gimana? Sukses kaaan bikin kamu langsung parno ngecek derajat kemiringan jempol kaki sendiri.

Jangan kuatir. Mulai sekarang, pake alas kaki yang lega-an ya. Masih bisa sembuh sendiri kok kalo belom parah-parah amat. Cek ini aja biar agak tenang dikit.

Okeee stop liatin jempol kaki. Balik lagi ke asuransi ya :) Untuk section ini:

Winner AXA Mandiri Kesehatan Prima. Yesss dia lagi :D Ini emang impian saya banget, sih. Semua penyakit pre-existing (yang pernah kita derita sebelumnya) dicover setelah 3 tahun. Tanpa kecuali. Bahkan sampe detik ini saya masih separuh gak percaya ada program kayak gini. Haha. Tapiii ini semua baru di atas kertas. Semoga pas klaimnya juga bener dan gampang, ya.

Second best Allianz Allisya Care. Penyakit pre-existing masih ada kemungkinan dicover, selama gak masuk pengecualian permanen. Yang penting jujur di awal. (Tip: coba tanya marketingnya, apakah pre-existing akan bikin premi naik tahun depan. Soalnya, risiko kesehatan kamu meningkat. Kalo preminya gak naik, itu bagus.)

Third best AXA Smart Care Executive. Dari awal udah jelas bilang kalo pre-existing gak dicover. Ever. Dari segi harga, ini ada untungnya. Premi tahun depan gak akan naik tiba-tiba. Semua harga udah fixed. Tapi dari segi coverage, ini gak cocok untuk kamu yang punya penyakit pre-existing. Sampe kiamat gak akan dicover. Untuk yang gak punya pre-existing, atau yang merasa pre-existingnya masih tolerable di kantong (panu, misalnya) silakan ambil ini.

Decent Lippo Health+. Pre-existing masih dicover setelah 9 bulan. Ini mirip sama Allianz. Coba tanya marketing apakah pre-existing akan bikin premi naik tahun depan. Kalo gak naik, sip deh. (Report balik ya biar info di sini bisa saya update :)

Rock bottom Manulife ProHealth. Liat perbandingan harga sama benefit aja udah demotivasi. Sebenernya opsi ini sudah langsung saya coret setelah review Tabel 1 tadi. Gak ngerti kenapa mahal banget padahal benefitnya sedikit.


Tabel 3 –Masa pemulihan benefit dan double claim

Ini tabel terakhir. (Akhirnya!)

Masa pemulihan benefit adalah waktu yang diperlukan supaya asuransi kamu bisa dipake lagi. Ini adalah masa tunggu yang diterapkan pihak asuransi setelah kamu dirawat di RS, atau kalau kamu telat bayar premi.

Double claim berguna buat kamu yang udah punya asuransi lain, tapi gak mencukupi. Kamu bisa nutupin selisihnya dari situ.



Untuk bagian ini, jujur agak kurang bisa obyektif nih. Karena saya belum konfirmasi apapun dengan marketing AXA SCE dan Allianz. Oh ya, Manulife juga. Tapi untuk section ini:

Winner AXA Mandiri Kesehatan Prima. Need I say more?
Second best Lippo Health+. Bisa double claim. Fair dengan sistem koordinasi manfaat. Masa pemulihan benefit cukup cepat.
Third best and Decent seimbang untuk AXA Smart Care Executive dan Allianz Allisya Care.
Rock bottom Manulife. Zzz.



VERDICT

Ultimate winner: AXA Mandiri Kesehatan Prima. Kalo dananya ada, silakan. This is IT.
Co- Ultimate winner: AXA Smart Care Executive. Hanya sedikit di bawah AXA MKP dengan harga jauh lebih murah. Almost equally great as well.
Friendly fit: Lippo Health+. Wide coverage. Nice price.

!!! Ini review pribadi dan subyektif. Kebutuhan tiap orang beda-beda. Apa yang cocok bagi saya, belum tentu cocok bagi kamu. Jangan lupa untuk teliti membaca setiap butir pasal di polis asuransi yang kamu minati. Seiring waktu, isinya bisa jadi sangat berbeda dengan kondisi ketika saya me-review ini.!!!

Semoga membantu ya!

InsyaAllah nanti saya posting lagi tentang tips memilih asuransi.

Makasiiiih :)

***UPDATE 11 FEBRUARI 2015***
Info lebih lengkap AXA MKP ada di postingan ini.
Ada daftar premi dan opsi pembayaran, prosedur klaim, dokumen klaim, timeline penyakit pre-existing, dan kartu peserta.

***UPDATE 12 FEBRUARI 2015***
Info lebih lengkap Lippo HealthPlus+ termasuk premi ada di postingan ini.
Info lengkap AXA Smart Care Executive ada di http://www.axa-insurance.co.id/90/en/health-insurance/personal-health/smartcare-executive Ada 11 plan. Untuk tau preminya, klik "Premium".

***UPDATE 25 FEBRUARI 2015***
Baca juga: Review Asuransi Kesehatan untuk Orang Tua dan Lansia

71 comments:

titiw said...

Gila gila gilaaa bermanfaat banget meskipun aku gak ngerti sedikitpun tentang asuransi. Bakal ngasih ke laki eike deh link ini. Thankies ffor sharing widy! :*

Widya said...

Cama-cama ontitiw! Seneng bisa manfaat :*

Andiaz Uno said...

Artikel bagus mbak :D

Widya said...

Hai Andiaz, makasih ya. Semoga bermanfaat :)

pratama said...

Pagi mbak,

Terima kasih untuk informasi yang dibagikan. Setelah membaca saya sangat terbantu, tapi saya memiliki beberapa pertanyaan, bolehkan ya mbak Widya

1. Apakah semua produk yang mbak tampilkan itu unit link atau konvensional?

2. Setelah munculnya BPJS bagaimana peran produk asuransi seperti itu?

3. Masih perlukah membeli produk asuransi jika kita sudah membuat BPJS?

Terima kasih untuk penjelasannya ya Mbak..

Best regards,

Pratama

Widya said...

Hai, Pratama. Makasih ya udah visit. Saya juga seneng udah bisa sharing. Saya coba jawab ya pertanyaannya.

1. Semuanya konvensional, tanpa ada unit link atau unsur nabung lainnya.

2. BPJS memang terobosan besar dalam asuransi kesehatan Indonesia. Bayangin aja, gak ada medical checkup screening, gak ada pengecualian penyakit, dan semua dicover 100% alias gratis tis. Menurut saya, BPJS berguna banget. Apalagi kalo penyakitnya berat kayak kanker. Sayangnya, BPJS punya banyak keterbatasan. Misalnya, hanya bisa di RS pemerintah. RS swasta baru sedikit. Dampaknya, antrian layanan jadi puanjaang banget. Dari mulai pendaftaran, lab, apotik, sampe kamar rawat inap. Gak kalah religiusnya dari pergi haji. Mesti banyak-banyak sabar, ikhlas dan berdoa, sebab kamu akan berkompetisi dengan 400 orang lainnya, hehe. (Maklum pengalaman ngantri haha xD)

Nah, punya asuransi selain BPJS seperti di atas berguna kalau kita memilih dirawat di RS yang gak terima BPJS, alias RS swasta. Asuransi jenis ini mengisi gap yang gak bisa dipenuhi BPJS, seperti kenyamanan. Kita akan lebih nyaman tanpa antri panjang dan ribet administrasi. Tinggal kasih kartu, urusan beres. Dan pasti langsung dapet kamar, tanpa harus nunggu sekian hari. Kekurangannya, mereka gak kayak BPJS yang meng-cover 100%. Mereka akan kasih limit berapa maksimum yang bisa dicover dalam setahun, atau per perawatan di RS. Bahkan, beberapa mungkin gak meng-cover perawatan penyakit berat seperti kanker, cuci darah, dll. Kalo ini harus dipastiin lagi, ya, sama asuransinya. Tapi yang jelas, semua penyakit yang sudah atau sedang kita derita tidak akan dicover selama masa tertentu/selamanya. Beda dengan BPJS yang semuanya dicover tanpa pandang bulu.

3. Kalo BPJS, menurut saya itu perlu. Kita gak pernah tau kapan bakal dikasih penyakit yang life-threatening dan sampe bikin kita jual tanah. Tapi perlu nggaknya asuransi lain, balik lagi ke diri sendiri. Saat ini pelayanan BPJS kan belum dibarengi dengan fasilitas lain yang menunjang. Jadi, kalau kamu bersedia ngantri dan ngurus administrasi, monggo banget silakan. Tapi kalau males ngantri, ya ambil asuransi lain kayak di atas. Opsi lainnya adalah bayar cash aja. Siapin dana rumah sakit dari sekarang pake tabungan rencana bulanan.

Semoga membantu ya! Makasiih!

Rita said...

Hi Mba, saya pemegang polis asuransi Axa Mandiri Kesehatan Prima, dan belum pernah claim or pake kartunya untuk berobat.

Menurut saya judulnya belum tepat yah, ini cm perbandingan diatas kertas, belum review kenyataan-nya bagaimana dilapangan, apakah benar seindah itu bisa berobat cashless dengan Axa Mandiri Kesehatan Prima ? saya gugel2 malah tetep reimburse (nemu satu kasus), dan menurut temen yg kerja di asuransi jg mmg tetap mereka kudu pelajari dulu, tidak semacam BPJS bisa dateng dan sodorin kartu trus kita tinggal santai2 kerna semua udah dijamin.

jujur saya lagi galau sedang mencari2 asuransi lain yg lebih terjamin dan sudah banyak yg pakai (banyak review/mengalami langsung benefit asuransi ybs).

bocoran lagi dari temen yg bekerja di axa mandiri peminat/peserta Axa mandiri Kesehatan Prima itu sedikit, duhh makin galau, kuatir pada saaat dibutuhkan itu asuransi tiarap, tidak seperti yg digembar gemborkan. *just sharing

Widya said...

Hai Mbak Rita,

Waah, seneng deh disamperin langsung sama yang udah punya polis AXA MKP :D

Maafkan ya balesnya lama. Kemaren abis tahun baruan sibuk ngejar
tumpukan kerjaan di kantor, hehe.

Gak usah galau, Mbak. Kalo di-reimburse bisa, itu berarti masih
bisa diklaim. Asuransinya berarti masih bisa dipake.

Saran saya gini. Coba Mbak pilih 2-3 rumah sakit yang kemungkinan
besar akan jadi RS tempat Mbak dirawat kalo sakit. Coba telfon dan
tanya, apa mereka terima AXA Mandiri Kesehatan Prima INDIVIDU. Sering banget kasus asuransi gak keterima karena si RS menetapkan kebijakan sepihak bahwa mereka hanya terima klien korporat. Klien individu nggak. Ini nih yang bikin punya kartu asuransi berasa sia-sia. Buntutnya reimburse2 juga. Makanya mending ditanyain dulu. Asuransi individu mana yang mereka terima. Kalo mau dateng lebih bagus lagi. Soalnya biasanya mereka akan minta lihat fisik kartu dan ngejelasin prosedurnya.
(Tip: fotoin beberapa kartu asuransi punya temen. Depan belakang ya. Nomor teleponnya juga harus jelas. Mereka akan butuh ini.)

Jumlah peminat juga gak menentukan kesaktian kartu asuransi, kok. Kakak saya pake Equity. Ini pastinya kalah populer banget dibanding Pru, Allianz, AXA, dll, tapi diterima2 aja tuh di RSPI. Karena dia korporat :)

Kalo kasus reimburse yang Mbak baca itu kayak gimana? Share dong Mbak :D

fabmn said...

Mbak Widya, salam kenal. Bermanfaat banget postingannya :)

Kebetulan saya juga lagi cari2 asuransi kesehatan murni, tapi lebih fokus ke asuransi rawat jalannya. Karena benefit rawat jalan dari kantor saya udah abis :(

Kalo saya liat AXA MKP ini kan bisa termasuk benefit rawat jalan (khusus yang plan Enhanced). Saya udah coba bandingin beberapa asuransi, kalo mau dapet benefit asuransi masuknya jadi tambahan (rider) dan itu mungkin bisa jadi lebih mahal preminya. Menurut mbak mendingan yg bisa cover sekaligus (rawat inap & jalan) apa tambah rider rawat jalan?

Trus mengenai AXA MKP, ada beberapa pertanyaan nih mbak :)
1. Kalo saya baca2, kita kan bisa mengajukan klaim buat penyakit baru (bukan pre-existing) setelah melewati masa tunggu 30 hari sejak tanggal efektif polis. Nah, di Tabel 2 poin pertama di postingan mbak kan disebutkan 'Masa tunggu rawat inap'. Itu bisa dianggap sbg masa tunggu yg saya sebutkan bukan ya?

2. AXA MKP ini pembayaran preminya seperti apa mbak (bulanan, triwulan, tahunan)? Trus masa berlakunya 1 tahun aja ya? Karena saya pernah liat asuransi lain, kalo mau berlangganan harus minimum 5 tahun hehe..

3. Sepertinya AXA MKP ngga ada No Claim Bonus ya mbak (premi dikembalikan ke kita x % kalo ngga ada klaim)?

4. Terakhir mbak..Untuk yang plan Enhanced tau ngga mbak perkiraan bayar preminya berapa? Siapa tau ada proposalnya :), atau mungkin lebih enaknya ke agennya langsung kali ya.

Oiya jadinya milih asuransi apa mbak? Mungkin bisa dishare pengalaman2nya :D

Oke mbak itu dulu. Makasih banyak atas waktunya.

Salam,
Fabian

Widya said...

Hai Mas Fab. Salam kenal juga. Alhamdulillah seneng bisa manfaat :D

Iya bener Mas. Emang biasanya asuransi rawat jalan hanya sebagai rider. Dan betul, preminya akan lebih mahal dari premi utama hahaha! Kalo saya sih (berhubung saya meticulously medit parah) gak akan ngambil rawat jalan sebagai rider. Abisan preminya gak adil gitu X-( Ku tak relaaa.. Mending siapin dana kesehatan dari awal. Caranya terserah, bisa transfer otomatis bulanan (ke rekening yg tanpa biaya bulanan kayak TabunganKu—ini ada di hampir semua bank), atau sengaja sisihin dari tabungan sekarang. Atau kombinasi dua-duanya.

Itu saya. Tapi kan tiap orang beda-beda ya. Sekarang coba Mas Fab proyeksikan, dari histori penyakit yang pernah ada, kira-kira seberapa besar sih kemungkinan rawat jalan. Seberapa sering. Buat apaan. Dan biasanya sekali rawat jalan abis berapa.

Misal frekuensi rawat jalan cuma 3x setahun, dan sekali dateng cuma 500-600 ribu, ya taruh lah sejuta. Setahun 3 juta. Sama aja kayak bayar premi rider rawat jalan kan hahaha! Ya mending siapin dana cash aja. Dibanding udah bayar premi, dan ternyata alhamdulillah sehat-sehat aja sampe tahun depan, kan sayang uangnya :D Lagian flu-flu doang mah gak usah ke dokter. Ntar juga sembuh sendiri :p

Terus, misalkan jadi ambil rider rawat jalan. Itu kan juga ada limitnya. Paling berapa juta sih setahun. Daripada gitu, lagi-lagi, kalo saya, mending siapin dari awal.

Intinya, kalo mesti bayar sendiri, agak gak layak diambil sih rider rawat jalan itu.

Ok next.

1. Masa tunggu rawat inap, artinya kalo mau pake asuransi itu untuk dirawat di RS, untuk semua penyakit selain yang kena ketentuan (pre-)existing, mesti nunggu 30 hari dulu. Bukan ajuin klaimnya ya, tapi tanggal kejadian penyakitnya. Jadi kalo misal sakitnya H+29 setelah polis efektif, kayaknya gak bisa diklaim. Mesti H+31 kayaknya. Baru dicover.

2. Buseh asuransi apaan tuh mesti 5 tahun! Itu asuransi apa mau meres? xDD *maafkan saya* AXA MKP preminya tahunan.

3. Gak ada no claim bonus. Biasanya asuransi yang banyak iming-imingnya gitu justru harganya muahal tapi benefitnya justru seiprit. Coba baca postingan ini deh.

4. Plan Enhanced lupa berapa. Coba nanti saya liatin ya. Di basement kantor kebetuan ada Bank Mandiri :) I’ll get back to you soon.

Oh ya. Kalo Mas Fab kebetulan tinggal deket-deket RS Siloam, atau gak keberatan jalan-jalan ke Siloam, mereka punya asuransi sendiri lho yang mengcover rawat inap DAN RAWAT JALAN :D Harganya ramah di kantong pula. Namanya Mediplus . Ini juga bikin saya penasaran banget. Sayang saya jauh dari Siloam. Kalo deket, pasti udah ambil ini :D

Oh ya, saya pake BPJS dan dana kesehatan aja.

Good luck and thanks for dropping by!

Widya said...

Mas Fab, aku udah nanya2 ke mbak2 AXA Mandiri haha.

Liat postingan ini ya.

Hope this helps :D

fabmn said...

Wah, thank you very much ya mbak! Sangat membantu, semoga kebaikannya dibalas berlipat oleh Allah SWT :)

Widya said...

Amiiin sama-sama makasih ya Mas Fab! Seneng bisa bantu :D

Monik said...

Mbak Widya, saya share pengalaman saya ya..
Tahun lalu, saya bergabung dengan AXA MKP setelah diberi penjelasan manfaat cashless MKP, rincian layanan perawatan yang ditanggung MKP pun cukup baik. Saya juga buatkan polis untuk kedua anak saya. Bulan lalu, anak saya kecelakaan dan saya bawa ke salah satu RS di Cibubur. Pemilihan RS berdasarkan daftar RS yang tertera pada website AXA Mandiri. Saat saya menunjukkan kartu AXA MKP, ternyata RS tersebut hanya menerima reimbursement untuk nasabah AXA MKP individu. Bagaimana bila saya sedang kesulitan keuangan? Bisa jadi saya terpaksa pulang dari UGD itu karena tak mampu membayar biaya operasi.

Saya rasa ini bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh karena pilihan menjadi nasabah karena adanya fasilitas cashless di RS yang terdaftar pada website AXA Mandiri. Namun bagaimana mungkin nasabah sendiri yang harus mengecek ke RS pilihan tersebut mengenai layanan cashless? Absurd!
Bukankah itu semestinya tugas provider asuransi?
Memberikan informasi manfaat yang tidak benar bukankah sudah usaha menipu (calon) nasabah?

Saya sudah menyampaikan aduan ini kepada pihak AXA MKP dan tanggapannya adalah saya harus mengecek kembali daftar RS yang bekerja sama dengan AXA MKP di website. Ternyata aduan saya tidak didengarkan dengan baik bahwa saya sudah mengecek website untuk memilih RS. Sayang sekali manajemen AXA MKP belum profesional.
Bulan ini setelah berakhir masa aktif polis, saya hentikan polis saya di AXA MKP.

Oia, ada sedikit masukan untuk mediplus. Ada tahapannya untuk berobat sebelum pergi ke RS Siloam (dan tidak semua RS Siloam melayani mediplus). Pertama kali harus pergi ke dokter umum yang bekerja sama dengan mediplus, lalu dirujuk ke RS terdekat yang bekerja sama dengan mediplus. Mirip2 BPJS swasta ya. Mungkin kalau jaringannya sudah luas dan banyak, ini bisa jadi asuransi pilihan.

Widya said...

Halo Mbak Monik,

Makasih bangeeet udah sharing pengalaman Mbak pake MKP. Bener banget Mbak, emang yang kayak gitu tuh suka kejadian sama asuransi. Katanya cashless, tapi pas udah masuk rawat inap, tau-tau gak bisa dibayarin cashless. Harus reimburse.

Ini emang gak bisa dianggap remeh. Soalnya, kejadian gini gak cuma di MKP, tapi juga di semua merk asuransi. Pas saya dirawat di RS deket rumah, saya coba nanya ke stafnya. Mereka terima XYZ gak. Mereka bilang terima. Tapi kalau mau cashless cuma bisa yang korporat. Individu nggak. Individu harus reimburse.

Lalu saya tanya lagi, asuransi individu yang diterima dan bisa cashless yang mana? Kata staf RS, semua fasilitas cashless hanya bisa untuk korporat. Individu tidak bisa cashless. Harus reimburse sendiri.

Ini kan aneh. Padahal RS itu masuk rekanan. Dan kalo kasusnya bisa di-reimburse, berarti asuransi sebenernya kan nerima klaim tsb, karena mereka bersedia menanggung dan mencairkan manfaat asuransinya. (Kalo asuransinya gak mau meng-cover utk rawat inap atas penyakit tsb, karena pre-existing atau pengecualian misalnya, mau gimana pun kita gak akan bisa klaim, baik cashless maupun reimburse. Dan gak akan cair manfaatnya.)

Di RS lain jawabannya pun sama. Persis kayak gitu juga. Padahal dia juga RS provider.

Nanya customer service asuransi? Yah, dari cerita Mbak Monik, saya yakin mereka pun gak bisa berbuat apa-apa kalau RS-nya gak mau memproses, kan? Cuma bisa nge-repeat “Jika sudah rekanan pasti bisa…” atau “Coba Ibu cek kembali daftar RS rekanan…” dari nun jauh seberang sana.

Nanya ke tiap RS adalah langkah preventif yang saya lakukan untuk menghindari hal-hal ini. Saya harus pastiin si RS inceran saya terima cashless atau nggak. Absurd? Memang. Tapi baru itu yang bisa saya pikirkan. Belom ada yang lain lagi :’(

Sampai saat ini saya gak gak tau yang salah di mana. Kenapa para RS pada nolak asuransi individu, dan kenapa juga pihak asuransi seolah tutup mata.

Well, berarti bener kata Mbak Rita di komen sebelum ini, bahwa review saya cuma berlaku di atas kertas doang ya :)

Gpp deh :D Saya tetep berharap semoga postingan ini bisa kasih manfaat, terutama ttg cara obyektif membandingkan dan menilai manfaat yang ditawarkan produk asuransi :D

Oh ya ttg Mediplus, wah, makasih banyak ya Mbak penjelasannya. Sekarang saya jadi tau kalo sistemnya berjenjang mirip BPJS gitu. Etapi tapi tapi, masa sih ada Siloam yang gak terima? Durhaka banget! Mbak udah ngambil ya? Sharing dong Mbaaak xD Aku mau tauuu :D

Anyway thanks so much for dropping by and sharing ya Mbak!

Anonymous said...

Bu, kemarin sy diskusi dgn agen Axa mengenai Axa Maestro Elite Care yang menurut sy mirip dgn Axa Mandiri Kesehatan Prima yg ibu review di atas. Untuk masalah klaim, ternyata Axa ME care itu bisa cashless hanya untuk penyakit fastrack seperti DBD, tipes dll. Untuk perawatan perdana penyakit yg non fastrack seperti ginjal dan jantung, sistemnya reimburse. Pertanyaan sy, apakah Axa MKP juga seperti itu?

Widya said...

Halo, wah saya baru tau ada istilah penyakit fastrack. Itu apa ya tepatnya? Kayak penyakit tropis gitu? Abis contohnya DBD sama tipes. Iya bener, ME Care emang mirip sama MKP. Tapi sejauh yg saya dapet dari mbak-mbak agen MKP di kantor, MKP bisa cashless untuk semua penyakit. Tapi sekali lagi, saran saya, sebelum beli asuransi, coba tanya dulu deh ke RS incaran Anda, terima cashless asuransi X gak (individu, bukan dari kantor). Semoga membantu dan makasih udah berkunjung dan komen! :D

Bemo said...

sore mbak, saya bernard. postingannya berguna sekali, terima kasih banyak. kebetulan fas ass corporate saya akan segera habis karena rencana resign, akhirnya saya hrs cari askes individu. pilihan saya tadinya MKP dan BNI life atau Lippo.tp setelah saya baca tentang kasus "cashless" yang ternyata reimbust, saya jadi sangata ragu, ditambah ada istilah waktu tunggu dan pre-existing. kebutuhan saya sebenarnya butuh asskes rawat jalan untuk khusus dr spesialis yang tarifnya mahal mahal (saya punya kadar gula dan kolestrol yang tinggi). gimana menurut mbak wid??seandainya saya hrs ambil mana yang paling mbak rekomendasikan?

Widya said...

Halo Mas Bernard, makasih udah mampir. Kalo masa tunggu dan pre-existing sih udah pasti ada di tiap asuransi. Semua pasti punya aturan untuk dua hal itu. Tinggal cari aja mana yg cover pre-existing, misalnya Lippo Health+ (di bulan ke-10) dan MKP (di tahun ketiga). Soal cashless yang suka gak bisa dan jatohnya jadi reimburse, risiko ini bisa diminimalisir kalo kita konfirmasi ke RS inceran, mereka terima cashless dari asuransi XYZ gak. Soal asuransi yg cover rawat jalan, saya gak rekomen. Mahal, bisa jadi sama dgn premi utama. Mending bayar sendiri. Tapi semua balik lagi ke masing-masing. Coba dihitung berapa kali setahun visit ke spesialis. Sepadan gak sama preminya. In general sih semua udah ada di komen2 sebelumnya. Semoga membantu ya :)

Rivasha said...

Hi Mba, mau tanya, kalao dari kantor udah dapet askes (inap) dan jatah tahunan untuk reimburse rawat jalan, dan di cover sampai 2 anak, masih perlu gak ya askes tambahan (terutama inap)?
karena jatah dari kantor itu masih dibawah yang diharapkan (jatah harga kamar), perlu gak ambil askes yang bisa double klaim?
tapi kalo upgrade kamar kan biayanya nambah, jadi worth gak kalo saya nambah askes supaya bisa cover tambahan biaya?

trus kalo askes itu rider dari asuransi jiwa murni, worth gak dibeli?
terima kasih mba :)
suka deh blog nya bermanfaat :)

Widya said...

Hai Mbak Rivasha. Makasih ya. Aku juga ikut seneng kalo postingannya membantu :D Aku jawab pertanyaan kedua dulu ya yang lebih gampang. Worthy gak ambil asuransi kesehatan sebagai rider asuransi jiwa? Nggak. Banget. Mahal, dan benefitnya jauh jauh dan jauh lebih sedikit. Mending ambil yang sendiri-sendiri, murni tanpa unsur investasi/tabungan. Itu baru murah. Oia saya udah janji nulis perbandingannya ya di dalem postingan ini? Hehe. InsyaAllah saya bisa tulis ya perbandingan harganya. Utang postingan :p
Trus pertanyaan pertama, worthy gak ambil asuransi tambahan yang bisa double claim? Kalo saya sih (ini saya lho Mbak) males. Pertama, males bayar premi :p Mending saya bayar cash kalo cuma nambah kamar sehari 200ribu. Toh obat sama dokter udah dicover asuransi kantor. Dirawat seminggu cuma nambah 1,4juta. Kalo nambah asuransi, kayaknya gak boleh 1,4 juta ya setahun. Ada sih tapi reimburse. Dua, males reimburse, hahaha. Soalnya kalo reimburse bukan asuransi kantor suka banyak pengecualian, dan belom tentu dikasih sesuai harapan. Minta 100 ntar dikasih cuma 80. Padahal udah bayar premi sejuta lebih. Bah. Trus, Males juga urus fotokopian kuitansi surat dokter dll. Males lah intinya kalo reimburse bukan asuransi kantor. Jadi, kalo saya (sekali lagi, ini saya lho Mbak. Orang lain boleh beda) mending uangnya buat investasi low-risk yg bertujuan untuk dana kesehatan. 1,5 juta kalo saya sehat-sehat aja kan rugi, mana tiap tahun bayar pula. Mending diinvestasikan hehe.

Rivasha said...

Waahh makasiih mba atas pencerahannya :)
bantuu bangeett
akhirnya aku ngikut mba Widya aja, gak ambil asuransi tambahan yg bisa double klaim karena kita sama2 pemales sepertinya hehehehe

ditunggu postingan berikutnya ya Mba
semoga sehat dan bahagia selalu :)
aamiinn

Unit Link Commonwealth Life said...

Terima Kasih Mba, Menambah wawasan bagi saya yang sedang mereview tentang suatu produk asuransi kesehatan..

Salam :)

Widya said...

Alhamdulillah bisa bermanfaat, makasih ya Commonwealth udah main2 ke blog saya :)

davdav said...

Akhirnya pakai yang mana Bu?

Widya said...

Saya? Belom pake, masih belom mutusin juga hehe :p Selama ini baru pake BPJS dan tabungan khusus buat kesehatan. Oia trus baru-baru ini saya baca kalo asuransi katanya hukumnya haram. Jadi tambah bingung deh :)

rahmikareem said...

Halo mba widya, seneng banget bisa nemu blog ini sangaaatt bermanfaat karna saya sedang cari2 asuransi kesehatan utk keluarga kecil saya. Pernah denger juga ttg asuransi yg hukumnya haram, tapi bagaimana dengan asuransi syariah seperti takaful??
Saya juga pernah baca di salah satu blog praktisi keuangan kalo asuransi syariah justru lebih menguntungkan. Mohon tanggapannya ya mbak :)
Syukron. Terimakasih :D

William Tanubrata said...

Terima kasih bu atas artikelnya bermanfaat sekali :)

NB : Sebagai salam perkenalan saya, saya juga sering menulis tentang edukasi asuransi. Ditunggu komentarnya ya ^.^

www.asuransijiwadankesehatan.wordpress.com

Widya said...

Mbak rahmikareem, aku udah bikin posting khusus untuk jawab pertanyaan Mbak di postingan ini plus nglantur-nglantur lainnya xD Makasih ya Mbak udah menginspirasi aku :D

Pak William Tanubrata, makasih banyak Pak. Seneng bisa manfaat. Iya nanti saya main-main ya :D

ifa said...

Haai mba Widya! Thanks for the info... Bantu banget. Saya lagi cari-cari asuransi kesehatan murni yang murĂ h meriah..
Nah, saya mau nanya nih gimana pendapat mba Widya soal Cigna Easycare?
Untuk yang gold ada santunan perawatan gigi. Kira-kira kalau mau memakai manfaat tersebut harus digabung dengan manfaat lain nggak ya? Kalau kita asal kita datang ke dokter gigi untuk bersihin karang gigi kira-kira tetep di cover nggak menurut mba Widya? Thanks :)

meutia andriani said...

mb,coba dunk review jg smartmed premier dr allianz, cashless, askes murni, dibayar sesuai tagihan, preminya lbh murah sedikit dr axa, tp limit per th nya 6 M, kalo mnrt saya lbh jelas plannya utk kamar harga brp krn kalo axa cm double bed gt saja.terima kasih

Widya said...

Hai Mbak Ifa! Cigna sebenernya udah pengen di-review dari dulu, bareng temen-temen sekelasnya yang sama-sama santunan. (Kalo yg ini kan non-santunan). Ttg bersihin karang gigi asal dateng, nah itu aku belom tau, soalnya mesti liat polisnya dulu. Yang santunan cabut gigi, perawatan akar gigi, itu juga takutnya ga bisa kalo kita udah pernah punya problem gigi duluan. Jadinya pengecualian. Mesti liat polisnya dulu Mbak.

Mbak Meutia Andriani, waaah makasih infonya ya Mbak. Kalo diliat-liat sih, looks like we have a new winner :))) **jika dan hanya jika: 1) kita gak ambil kamar di atas plan, 2) saat underwriting, kita gak disuruh bayar ekstra premi. Soalnya kalo iya, jadi mehong dong bayarnya :D** Ntar insyaallah aku tambahin yah. Buat pembaca yang udah penasaran, silakan liat di sini, sini dan sini.

st_budi said...

halo mba wuri, pls review manulife mi-ultimate healthcare dong.. lg galau mau ambil itu ato MKP. eh skrg malah tmbh galau krn ada allianz smartmed premier. ditgg review-nya ya mba.. tks.

Mandy said...

Mb Widya,tks infonya yg super lengkap. Saya sudah pakai BPJS,tp mau tambahkan lagi dg asuransi swasta, krn kalo BPJS kan lbh ribet. Lippo Health+ cukup menarik:) Btw pengertian masa tunggu rawat inap 30 hari dengan kalimat pre-existing disease baru di-cover stlh 9 bulan apa ya mba? saya agak bingung. Tks infonya :)))

Widya said...

Hai Mbak Mandy, alhamdulillah bermanfaat :D

Masa tunggu rawat inap 30 hari artinya kita baru bisa dicover jika masuk rawat inapnya 30 hari setelah polis aktif.

Misal polis Mbak aktif resmi 1 Januari, berarti perawatan RS yang dicover adalah yang masuknya tanggal 31 Januari atau setelahnya.

Pre-existing 9 bulan artinya penyakit/kondisi tubuh yang udah ada sebelum Mbak ikut asuransi tsb baru akan dicover 9 bulan setelah polis aktif.

Misal polis aktif 1 Januari. Mbak sebelumnya pernah operasi lutut. Kalo lututnya kambuh sebelum 1 Oktober ya ga bakalan dicover. Kalo tgl 2 Oktober dan sesudahnya baru bisa dicover.

Semoga membantu ya Mbak. Makasih udah main kemari :D

Widya said...

Mas st_budi, wah kayanya udah ada genre asuransi kesehatan baru yang semua tagihannya ditanggung, ya. Mesti bikin review baru lagi dong nih hehehe. Eh, atau udah nemu yang review dan compare duluan belom Mas? Aku juga mau ikutan baca xD

Rachmah Putri marviany said...

Mba Widya, makasi atas postingannya ya berguna banget, :)
Mba, info dong , asuransi kesehatan apa ya yg bisa di klaim sesuai dengan angsuran kita (misal kita tidak sakit) dan bisa tetep gunain BPJSnya,masalahnya saya ga niat buat bikin asuransi swasta, saya mau buat karna peraturan dari kantor aja mba, karna saya udah punya kartu BPJS yg gratis, kira kira dimana ya mba asuransi kesehatan yg tepat dengan kondisi saya ? Jujur, saya buta nih mba sama asuransi kesehatan gitu, hehehe, makasi mba buat sebelumnya ..

Widya said...

Mbak Rachmah Putri Marviany, maksudnya bisa diklaim sesuai angsuran itu gimana ya.. Yang preminya kembali gitu? Banyak sih, tapi menurutku mahal dan benefit sedikit. Sayang uangnya, hehe.

Sebenernya banyak pilihan lho kalo mau ambil asuransi yang cuma buat hahahehe aja :p Cari aja yang maksimum premi 1,5 juta setahun. Cuma kebanyakan emang sistemnya reimburse, bukan kartu. Biasanya bentuknya santunan harian. Dan benefitnya lebih sedikit sih.

Putu susila Susila said...

Thank you Mbak Widya, share postingan nya berguna dan sangat membantu. Jadi punya opsi buat pilih asuransi keluarga saya.

Putu susila Susila said...

Thank you Mbak Widya, share postingan nya berguna dan sangat membantu. Jadi punya opsi buat pilih asuransi keluarga saya.

Widya said...

Sama-sama Mas Putu :)

angga AP said...

Mbak, bisa minta kontak personal? Email ato no hp?

Widya said...

Ada apa mas angga, coba intro2 di sini dulu :)

angga AP said...

Saya ingin tanya asuransi yg menerima pasien kanker. Saya sdh kena kanker dan menjalani kemo 1paket, bln 5 nanti akan Pet scan. Saya ingin tau asuransi penyakit kritis yg masa tunggu nya tidak terlalu lama dan klo bisa yg rekanan dengan RSPAD gatot. Saya domisili di bengkulu. Mohon infonya mbak.

Widya said...

Saya jawab di sini aja ya Mas.
Jawabannya adalah BPJS. Akan dicover 100%. Hanya itu aja pilihannya.
Rasanya tidak ada asuransi swasta yang menanggung treatment maupun diagnostik lab pasien yang sudah jelas terdiagnosis CA. Sebab, Mas Angga masuk asuransi setelah terdiagnosis. Jadi gak akan dicover.
Semangat Mas Angga, doa saya selalu utk Mas Angga dan keluarga. InsyaAllah treatment bisa memberi hasil maksimal, kembali pulih dan fit seperti sedia kala. Amiin.

angga AP said...

Makasih doanya mbak. Tp ni lg mau nyobain avrist, ntr saya kabarin gmn hasilnya. Katanya sih avrist mau nanggung tp ada masa tunggunya

aNINDIta said...

Mba mau tanya di antara asuransi itu mana saja yang menanggung biaya melahirkan, gigi dan mata ya mba? maaf kalau saya bacanya kurang teliti. Trims.

Jefri Bukit said...
This comment has been removed by the author.
Jefri Bukit said...

Mbakk Wid,

jadinya pake apa? Kalo aku jadi pengen juga pake lippo health+ kalo ngliat preminya..heheehe

bapak koret#

thx

Widya said...

Hahahaha akhirnya saya pake BPJS aja sama tabungan khusus buat kesehatan Pak Jefri Bukit :P Saya males bayar :))))

Widya said...

Hai Mbak Anindita. Tenaga aja, Mbak gak salah baca kok, hihi! Semua asuransi bisa mengcover itu, tapi mesti ambil asuransi tambahan. Tapi saran saya sih gak usah. Kemahalan preminya. Balik modal kagak. Buang duit aja. Hehe.

Rahma said...

Mbak Widya, artikelnya bermanfaat sekali. Kebetulan saya sedang mencari asuransi kesehatan konvensional. Awalnya ga pernah kepikiran untuk membeli asuransi kesehatan pribadi, karena mikirnya sudah ada asuransi dari kantor (meskipun tidak di-cover sepenuhnya). Beberapa waktu lalu, saya memeriksakan diri karena ngerasa ada benjolan di payudara dan dokter mengatakan itu tumor jinak. Kata dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan tidak ada tindakan medis sama sekali. Tapi, saya jadi kepikiran macem-macem dan akhirnya memutuskan untuk membeli asuransi kesehatan konvensional.

Mbak, mau tanya, dengan kondisi saya, apakah saya terhitung memiliki pre-existing condition?

Terima kasih.
Salam,
Wati

Widya said...

Dear Mbak Rahma, iya Mbak keitung kayaknya hehe. Mbak gak second opinion? Kalo di Jakarta, coba ke RS Dharmais bagian Deteksi Dini deh. Nanti dicek komprehensif. Aku doain semoga gpp dan sehat2 selalu amiiiiinn

rahma said...

Aamiin, makasih mbak Widya. :) Jadi, kalau masuk pre-existing condition, yang paling cepat masa tunggu nya Lippo + ya, mbak. Secara AXA MKP baru tiga tahun :)

Ada review askes lain yang masa tunggu nya lebih cepat kah, mbak? hehe trims

Tri Daninggar said...

Mbak...mau tanya soal asuransi allysa punya alianz. Apakah bagus?syariahnya bagaimana?sy ada bpjs tp karena faskesnya agak jauh dr rmh,pengen punya asuransi yg bisa dipake di rs dkt rmh.
trima kasih sblmnya

Widya said...

Haha belom sempet review asuransi lagi Mbak... Gantian dong, aku senang lho, hahahahahh xD

Widya said...

Bagus kok Allianz. Lha ini saya review Allisya :D Syariah, sama aja kayak konvensional. Semua asuransi (dan bank) juga sama.

Ferdiansyah Berbagi Cerita said...

Lah mbak widya pake bpjs aja? Ga di top up lg sama asuransi komersial lain?

Anonymous said...

Sangat membantu dab informatif pula. sy sdh browsing buat milih2 asuransi apa. Baru skrg dpt pencerahan.sy blm ikut asuransi apapun n sdh 2x oprasi. Alhamdulillah sangat mencerahkan ibfonya mbaj. Smangat n sukses yaa . Barakalkoh. Amiin

Mahkota Medical Centre Surabaya said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Widya said...

Nggak Mas Ferdi hehe xD BPJS aja

Widya said...

Makasih aamiin. Ini mau nulis lg review asuransi yg ditanggung sesuai tagihan (as charged) Tapi belom selesai. Doakan ya. Listnya ada di atas. Manulife MiUltimate Healthcare, Allianz Smart Med Premier, sama satu lg lupa, agak malas scroll jauh di komen2 di atas hihi xD mereka kayak AXA MKP :) doain ya :)

Yeni said...

Mbak makasih banget buat postingnya...
Mau Tanya dong, saya pernah kanker payudara 7 thn yang lalu, dan masih ada tumor jinak di payudara lainnya(udah ada dari waktu itu, kata dokter biarinin aja gpp, gak usah diapa2kan krn kecil). sudah 7 thn n semua beres, gak pernah kambuh.
Pengen cari asuransi, tapi kata saudara yang kerja 20an tahun di AIA lalu pindah ke Avris, kamu mah gak bakal ada perusahaan asuransi yang terima. biarpun utk penyakit lain juga enggak. kalaupun diterima, ntar klaim juga gak akan dibayar.
- apa benar, gak akan diterima?
- apa benar, yang ada pre-existing condition, biar udah lewat masa tunggu juga gak akan dibayar, cuma teori doang?

Satu lagi, ada yang punya pengalaman dengan Mediplus gak yah?

Makasih banyak Mbak!

Royal Jawara said...

setelah menyimak ulasanya sangat membantu sekali mbak terima kasih dan saya ada sedikit masukan mungkin ini logika saya aja sih semua asuransi kesehatan yang ada di indonesia akan melakukan reimburse kepada semua nasabah individu kecuali korporat karna mungkin itu proses identifikasi nasabah apakah kita nasabah yang baik atau tidak, benar tidaknya data polish yang tertanggung dengan data pasien mungkin klarifikasi data reimburse memakan waktu 1x24 jam untuk verifikasi intinya kita cuma di cek apakah polish kita aktif atau tidak preminya di bayar atau bermasalah saya rasa kalau pembayaran preminya tidak bermasalah semua akan fine2 saja, jangan terlalu bingung dan jangan terlalu takut tapi waspada perlu, kalau BPJS tetep perlu karna itu kartu sakti terakhir kita kalau askes kita dah mentok tapi askes kita juga perlu untuk yang sifatnya urgent kalau ada yang salah tolong di maafkan dan di ralat terima kasih wasalam

Lee Tata said...

Hai mbak. thx postingannya manfaat banget. saya juga pakai asuransi BPJS sekeluarga, cuma anak saya yg masih umur 2 tahun saya back up dengan asuransi lain yang cashless. baca postingan yang kalau gak semua RS mau nerima Cashless kok agak ketar - ketir ya. harus Tlp RS rekanan nih.

Siretu said...

Wah emang deh postingan dari emak2 atau ibu2 yang memang sudah berpengalaman jadi mentri keuangan keluarga dan dokter keluarga selalu bermanfaat :D

Salam kenal ya mbak, saya juga lagi nyusun artikel tentang daftar asuransi kesehatan terbaik dan artikel dari mbak sangat bermanfaat :)

dito said...

sebagai salah satu marketing dr perusahaan asuransi, sy nilai cukup objective analisa dr mbak widya *two thumbs uP!

Suzuki Mobil said...

Mantaaaaaabbbbb mbak postingannya

sjifa said...

Thanks for reminding me once more that insurance is riba T-T
even for sharia insurance......
i am so confure right now
guess i have to invest more for the sake of health protection

asuransi kesehatan said...

makasih mbak postingan bagus

Adie....the one and no other's said...

Assalamualaikum mba widya, subhanallah sekali saya baca artikel pembanding asuransi dan conclusion nya nggak perlu asuransi, tutup hutang dan berserah diri kepada ALLAH SWT.
Alhamdulillah sampai saat ini saya dan keluarga masih dicover perusahaan no limit, tetapi kadang ketidaktahuan saya yang mudah terbujuk marketing asuransi membuat saya malah sibuk membanding-bandingkan.

Alhamdulillah akhirnya keputusan saya bulat, saya harus menabung emas dan invenstasi saham syariah sebagai pengganti asuransi.

Semoga Allah SWT selalu memberikan kit rizki yang barokah dan tetap konsisten menjalankan perintahnnya.

Thanks mba

Popular Posts