Monday, June 19, 2017

Pertama Kali Ganti Durogesic (Fentanyl)

Selalu ada saat-saat pertama.

Alhamdulillah ibu sudah kembali ke rumah setelah dua minggu lebih di Dharmais. Dan kemarin, untuk pertama kalinya saya memasang strip Durogesic di badan ibu.

Sejak sehari sebelumnya, saya sudah panik. Saya merasa belum cukup ilmu meski sudah diajarkan perawat di rumah sakit. Waktu itu, perawat hanya ngasih liat aja. Dia yang melakukan semuanya. Bukan saya. Tangannya pun cepat sekali. Sat set sat set, selesai.

Durogesic ibu diganti tiap 3 hari. Jadwal berikutnya hari Minggu. Sejak Sabtu, saya udah deg-degan. Pikiran saya dipenuhi reminder untuk beli alcohol swab dan plester putih besar yang berpori besar seperti di Dharmais, untuk menguatkan tempelan Durogesic di badan.

Minggu siang, saya browsing video cara mengganti fentanyl di Youtube. Ternyata cukup mudah. Hanya, kita harus berhati-hati supaya tidak menyentuh sisi yang lengket. Semua morfinnya ada di situ. Inilah yang bikin saya deg-degan. Saya belum tau sisi lengketnya yang mana :)))) Belum pernah buka kotaknya sendiri dan liat dari awal :)))

Setelah liat video INI dan INI, akhirnya saya merasa yakin untuk bisa ganti sendiri. Jam tiga sore, setelah shalat ashar, saya mengajak suami ke apotek untuk beli alcohol swab dan plester besar.

Jam empat tepat, saya mengetuk kamar ibu. Ternyata, ibu sedang mandi. Saya keluar lagi dan menunggu sambil tidur-tiduran. Ini hari-hari terakhir Ramadhan. Rasanya ingin sekali buka Quran, tapi tanggung. Padahal ibadah saya rasanya sangat kurang sekali :(

Sepuluh menit kemudian, ibu selesai mandi. Saya menggunting plester secukupnya. Lalu menulis jadwal ganti di permukaannya dengan pulpen. Sebelah kiri tanggal dan jam ganti hari ini. Sebelah kanan tanggal dan jam ganti berikutnya. Saya tulis besar-besar nama harinya. RABU.

     
Saat saya membuka dan mengoleskan alcohol swab, ibu mengeluhkan aromanya yang tajam. Ibu memang sensitif bau. Tapi merk ini memang bukan yang biasa. Baunya juga beda. Lebih mirip alkohol cuci tangan botol hijau besar merk Softa-Man. Yang suka ada di RS dan tiap bed-nya. Ibu selalu menutup hidungnya ketika ada yang cuci tangan pakai cairan itu. Jadi, sekarang ini pun, ibu menutupi hidungnya dengan mukena.



Sayangnya, saya harus memakai alcohol swab baru ini cukup banyak. Satu untuk melepas Durogesic yang lama, satu untuk membersihkan bekasnya, dan satu lagi untuk membersihkan area yang akan dipasang. Habis lah saya dikomplain klien dan dipunggungi x)))))) Saya cuma bisa minta maaf, nanti kita beli merk yang biasanya xD

Mulailah saya membuka kotak Durogesic. Isinya 5 strip. Masing-masing dibungkus tersendiri. Saya ambil satu dan gunting sisi bertuliskan "open here". (Taat sekali, ya, hahaha)



Ok. Ini saatnya. Saya rogoh sachet kecil itu dan temukan selembar tipis plastik kecil bening. This is the moment of truth. Cailah lebay :p Saya ingat posisi strip saat melepas tadi. Tulisan Durogesic tampak normal dan terbaca jelas. Tidak terbalik. Berarti di belakangnya itulah sisi lengketnya.

Strip bening itu berukuran mini. Panjangnya hanya satu ruas jari lebih sedikit. Lebarnya lebih pendek. Ada tulisan Durogesic.

Saya coba buka dari sudut. O-ow, sulit. Lalu saya lihat, di bagian tengah ada sambungan stiker yang melintang. Pasti di sini bukaan-nya.



Saya buka stiker itu. Bisa! Separuh atas saya buka, lalu tempelkan ke dada ibu. Lalu separuh yang bawah, lalu tempel dan ratakan semuanya.

Suksesss!!!! Alhamdulillah :D

Hmmm. Sekarang ibu tampak seperti humanoid, soalnya ada merknya di dada xD

Okeh. Biar gak kayak humanoid, yuk langsung tempel plester yang tadi udah ditulisin jadwal.

Saya raih plester putih besar itu dan coba membukanya dari sudut. Susah, pemirsa x))))) ketahuan banget gak pengalaman xD Kayaknya kemarin makenya cepet sekali deh di RS, kata ibu. Iya, Uti, jawab saya xD Nyadar kalo gak pengalaman, pasrah aja deh ya xD

Okeh. Beres. Sekarang udah tampak normal :D  Mission accomplished.

Saya bereskan sisa-sisa plester, alcohol swab, dan lain-lain. Strip Durogesic bekas dilipat supaya semua bagian lengketnya saling menempel, lalu dimasukkan ke sachet kosong. Lipat hingga tertutup, baru dibuang. Kata mbak-mbak di video Youtube, sisa-sisa morfin di situ bisa membahayakan anak-anak dan hewan peliharaan. Okelah. Kita nurut.

Yak, selesai.

Demikian pengalaman pertama saya memasang strip fentanyl Durogesic. Semoga bermanfaat :) *kalopun ada yang ketawa karena saya beginner banget, gpp silakan, saya udah ikhlas, kok, hahahahaa... Terima kasih ya sudah membaca xD

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Saturday, June 10, 2017

Lebih Dekat ke Surga

Sudah 12 hari ibu dirawat di Dharmais. Ibu mengeluh area pinggangnya sakit. Sulit untuk duduk dan berdiri.

Setelah berkonsultasi dengan dr Nugroho, beliau menyarankan ibu dirawat. Dengan berbekal surat pengantar, saya, kakak dan ibu menuju IGD Dharmais.

Ruangan penuh sekali. Tidak ada tempat tidur kosong. Ibu harus tetap di brankar hingga dapat kamar.

Tadinya kami dapat kamar kelas 3 di kamar 610. Satu jam kemudian, kami dipindah ke kamar kelas 1 di 707. Kebetulan ada pasien pulang. Semoga sembuh dgn baik. Aamiin yra.

Kamar 707 ini alhamdulillah enak sekali. Luas, meja dan lemarinya besar, dan sangat nyaman. Ternyata dulu itu bekas VIP. Pantas.

Treatment ibu dimulai keesokan harinya. Ibu diinfus Bonefos untuk menguatkan tulang. Dr Nugroho menyakinkan kami bahwa insyaallah aman, meski ibu baru saja mendapat Bonefos lima hari sebelumnya.

Bonefos mulai masuk jam 9 malam. Kali ini durasinya enam jam. Lebih lama dari bulanan rutin yang hanya tiga jam. Mungkin karena jaraknya berdekatan.

Keesokan harinya, ibu menjalani bone survey. Sama saja dengan ronsen biasa, hanya yang difoto lebih banyak. Ada kepala, bahu, dada, lengan, tulang belakang, pelvis, paha, dan tungkai. Hampir semua lah. Ada 16 foto.

Kini ada lesi osteolitik di kepala dan lengan kiri. Di foto, warnanya hitam. Ada juga proses osteoporosis di tulang belakang. Dr Nugroho wanti-wanti benar bahwa ibu gak boleh sampai jatuh.

Di hari kesepuluh, ibu mulai batuk. Agak berdahak sedikit. Saya khawatir sekali infeksi. Sepertinya karena terus-menerus berbaring juga. Belum bisa duduk dan berdiri. Dokter memberi resep obat batuk dan CTM. Hmmm kenapa CTM ya?

Sebenarnya dr Nugroho pun sudah ingin ibu lekas pulang, sebab khawatir terkena penyakit menular yang banyak beredar di rumah sakit.

Ada satu hadits yang saya pegang teguh saat menemani ibu yang, kali ini, tumben sekali ada drama.

Narrated Abdullah b. Mas'ud reported,

I said: Messenger of Allah, which of the deeds (takes one) nearer to Paradise?

He (the Holy Prophet) replied: Prayer at its proper time,

I said: What next, Messenger of Allah?

He replied: Kindness to the parents.

I said: What next?

I replied: Jihad in the cause of Allah.

Sahih Muslim (The Book of Faith - 159)


Pas lagi drama yang suka bikin nangis itu, tiap kali liat ibu, saya ngomong sendiri. Nearer to paradise. Nearer to paradise.

Semoga proses latihan rehab medik segera mulai dan selesai dengan baik. Semoga ibu sehat dan kuat. Semoga Allah berikan yang terbaik untuk ibu di dunia dan akhirat. Aamiin yra.

Oh ya. Dan kebaikan dan nikmat di alam kubur dan akhirat untuk almarhum bapak. Aamiin yra.

Jannah untuk mereka berdua.

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Friday, June 2, 2017

Belajar dari Sebelah

Hari keempat dirawat di Dharmais.

Di sebelah kami seorang ibu usia 63 tahun. Beliau dirawat anak laki-laki yang juga satu-satunya. Seumuran saya.

Pasangan ibu dan anak ini tiap habis adzan langsung shalat berjamaah. Tidak ada jeda. Azan selesai, langsung berdirilah anaknya, dan menjadi imam shalat. Cepat sekali.

Pernah, saking cepatnya, saya tidak melihat dan mendengar mereka shalat. Saya tunggu-tunggu, tapi mereka tidak kunjung shalat. Hingga azan berikutnya, barulah saya tahu, mereka berdua sungguh cepat melaksanakannya.

Setengah jam sebelum azan,  keduanya sudah mulai membersihkan diri di kamar mandi. Alhamdulillah sang ibu bisa berjalan. Sang anak menuntun dan menunggu di depan pintu. Keluar dari kamar mandi, sang ibu sudah wudhu. Lalu anaknya. Dan saat adzan berkumandang, mereka langsung iqamah dan takbir.

Membuat saya merasa tertampar.

Selama ini saya shalat sendirian. Ibu saya nomor duakan. Yang penting saya shalat dulu. Ibu nanti. Kalau saya sudah shalat, kan lega. Bisa gantiin pampers dan bersih-bersihin lebih leluasa. Begitu pikir saya.

Oh, betapa salahnya! Dan lebih malu lagi, saya kalah dari laki-laki! Saya, perempuan, kalah soal mengurus orangtua dari anak laki-laki! Harusnya saya yang lebih jago!

Saya merasa ditampar keras. Keras sekali.

Sebagian hati kecil saya menjawab, Ibu itu buang airnya gak bisa diprediksi. Kadang saat kita baru selesai ganti pampers, bersih-bersih, dan bersiap shalat, tiba-tiba ibu mau buang air lagi. Makanya kami nggak pernah bisa shalat tepat setelah adzan.

Tapi itu cuma alasan.

Kan bisa diganti 15 menit sebelum adzan. Atau, kalau pun habis itu ibu mau ganti pampers lagi, ya tinggal ganti aja. Habis itu langsung shalat.

Intinya, jangan menomorduakan ibu!

Shalat jangan egois. Ajak ibunya shalat!

Ya, benar. Sekarang ibu tanggung jawab saya. Kalo nanti ditanya di hari kiamat, kenapa ibu kamu gak kamu ajak shalat tepat waktu? Saya mau jawab apa?

Makasih Mas Ari. Saya belajar banyak. Banyak sekali. Semoga saya juga bisa membangun percakapan yang indah, menyenangkan, bermanfaat dan memberi kebaikan dunia akhirat untuk ibu, seperti yang Mas Ari selalu lakukan.

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Popular Posts