Tuesday, March 31, 2026

Memilih Jasa Buang Barang

Saya 'Marie Kondo' banget dan minimalis banget. Tapi saya memilih untuk tidak membereskan rumah orangtua kami yang penuh barang.

- - -

Saya baru saja melihat video tim anti-hoarding. Apa itu tim anti-hoarding? Mereka adalah tim yang membantu buang barang-barang di rumah. Biasanya klien memanggil jasa mereka untuk membuang barang di rumah orangtua yang sudah sepuh dan penuh sesak dengan barang. Tim mengambil dan mengangkut agar rumah lebih lapang.

Dari video itu, ada beberapa hal yang bisa jadi catatan.

Pertama, awalnya saya tidak percaya dengan sistem memanggil tim pembuang barang. Mendatangkan sekelompok orang ke rumah untuk mengambili barang kita, tanpa kita dilibatkan dalam proses memutuskan mana yang boleh dan tidak, adalah perampasan. 

Idealnya, menurut saya, hanya pemilik barang yang berhak memutuskan nasib setiap barang.

Dalam video itu, terlihat tim dimarahi oleh kakek yang rumahnya 'diberesi'. Sang kakek merasa ada dokumen penting yang ikut terambil dan hilang. Ada pula jamu, yang pastinya sangat penting bagi sang kakek. Tim hanya mengangguk-angguk dan berjanji mengembalikan dokumen jika ditemukan. Tapi, siapa yang jamin buntelan sampah yang sudah siap dilempar ke TPA akan dibuka lagi satu per satu? 

Tim (dan anak sang kakek) boleh bilang, 'nggak, kok, kami melibatkan kakek dalam pengambilan keputusan mana yang boleh dibuang dan yang tidak'. Namun, kemarahan kakek sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa tim memang hanya ambil-buang-ambil-buang. Tim-lah yang menentukan mana yang layak dipertahankan, mana yang tidak. Padahal, itu bukan barang mereka.

Nampaknya, alasan klien memanggil tim seperti ini adalah karena ia sudah tidak tahan dengan kondisi rumah orangtuanya yang penuh barang, namun tak punya waktu untuk duduk bersama; berdiskusi tentang bahaya rumah kotor dan banyak barang, serta memilah barang. Proses ini berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Atau berbulan-bulan. Antara tak punya waktu, atau tak mau menyisihkan waktu. Klien hanya ingin solusi instan: selesai sekejap in less than 12 hours. Wajar, karena besok kerja. Masuk kantor.

Atau. tipe kakek-nenek adalah yang tidak mau nurut anaknya. Hanya nurut kata orang lain. 

Memang selesai sih, dalam sekejap. Tapi, yah, hanya sekejap saja memang.

Kegiatan ini tidak meng-address akar masalah. Kenangan itu pasti. Yang lebih besar bisa jadi:

  • Kehilangan pasangan hidup yang dicintai
  • Kehilangan teman sebab sudah meninggal semua atau pindah kota
  • Latar belakang lemah ekonomi di masa kecil
  • Pengabaian (neglect) dan penganiayaan (abuse) di masa kecil
  • Belum paham risiko kesehatan dan keselamatan 
Saya yang minimalis dan Marie Kondo banget ini jadi ikut bisa paham, bahkan merasakan, bahwa memang hal-hal itulah yang membuat pengidap hoarder merasa nyaman dikelilingi banyak barang. Saya pun tidak bisa menjamin, saat pasangan hidup sudah tiada, teman-teman juga tiada, dan saya sendirian, mencoba mengelola tubuh dan perasaan yang sudah renta, apakah saya tidak akan kesepian? Usia empat puluh dan beberapa episode rumah sakit telah mengubah saya. Jika saya masih 20-30, badan gagah perkasa, sana-sini dijabanin, rasanya mustahil saya berpikir seperti ini. Usia enam puluh tinggal dua dekade lagi, insyaAllah.

Saat kakek marah-marah, saya bisa memahami kekesalannya. Ia marah, karena merasa haknya dirampas. Kenangan dan rasa amannya saat dikelilingi barang miliknya, hilang semua. Kini ia jadi rapuh. Rumahnya serasa bukan rumahnya. Tak lagi ada kenangan, tak ada lagi kehangatan.

Pernah dengar kasus seorang kakek yang marah besar saat anaknya memberesi barang di rumahnya, sebab itu mengingatkannya pada mendiang istrinya, dan akhirnya anaknya mengembalikan semua seperti semula? Ya, saya pernah dengar dari Bude yang sudah sepuh. Itu yang terjadi. Dan bukan tidak mungkin, kakek di video sebenarnya mengalami hal yang sama. Salut pada kakek yang begitu kuat untuk merelakan barang-barangnya diambili dalam sekejap. Sedih melihat kakek marah-marah saat barangnya terbuang. Pada akhirnya, memang rumah kakek jadi lebih bersih dan rapi. Namun, terbersit di hati kecil saya, cakep itu kan menurut kita. Bagaimana menurut kakek? Jangan-jangan ia merasa kosong dan sepi. Saya ingat salah satu prinsip Marie Kondo adalah jangan sentuh barang yang bukan milikmu. Kita tidak berhak dan tidak diperkenankan membuang barang orang lain.

Kembali ke tim anti-hoarding. Meski awalnya saya tidak setuju, kini saya bisa melihat ada manfaat. Ada beberapa catatan untuk membuat prosesnya lebih mudah.
  1. Decluttering oleh tim pembuang barang harus dilakukan bertahap. Harus dipahami bahwa decluttering tidak bisa dilakukan dalam sehari saja. Yang seperti ini khawatirnya justru malah akan rebound, alias kembali ke penuh clutter. Sebab, akar masalahnya tidak diidentifikasi dan diberesi. 
  2. Tidak apa-apa berkonsultasi ke psikolog. Konsultasi bukan berarti gila. Justru menandakan semangat dan tekad meraih diri yang lebih baik. Sekarang layanan psikolog gratis ada di puskesmas. Silakan manfaatkan.
  3. Sebelum sampai ke tahap mengundang tim, klien dan kakek-nenek seharusnya sudah paham dan setuju manfaat bersih-bersih, dan sudah memilih barang mana yang akan disimpan. Ingat, pemilik barang adalah kakek-nenek. Mereka yang berhak menentukan. Jadi, tim hanya datang sebagai pengangkut, bukan pengambil keputusan. Ini akan meminimalisir konflik. Proses yang panjang, tapi harus dilalui. Sebab, ini yang paling penting:
  4. Jangan sampai menyakiti hati orangtua. Jangan sampai keinginan KITA punya rumah rapi justru menimbulkan masalah baru, yakni PEMILIK RUMAH alias orangtua kita yang kesepian. 
  5. Setelah beres-beres, sering-sering berkunjung ke rumah orangtua dan ajak beraktivitas di luar. Makan. Ketemu orang. Ngobrol. 
  6. Kalau buang sesuatu, harus digantiin. Bukan barangnya, tapi kehangatannya.
- - -

Kami mengalami kesulitan membereskan rumah orangtua karena poin no. 3. Tak cukup waktu duduk bersama untuk diskusi, sebab kami tinggal terpisah. Hanya ketemu seminggu sekali. Kami juga tak ingin solusi instan namun menyakiti perasaan: panggil jasa dan asal buang barang tanpa persetujuan pemilik. Takut durhaka. Jadi, kami terjebak di situ-situ saja tanpa kemajuan.

Lalu, solusinya apa? Hingga saat ini belum ada. Namun jika suatu saat orangtua bilang "iya", insyaAllah bisa kami selesaikan dalam seminggu saja.

No comments:

Popular Posts