Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Sunday, January 31, 2016

Harga Mesin Radiasi

Sekian lama pertanyaan saya gak terjawab:

Kenapa Dharmais cuma punya DUA mesin radiasi? 
Kenapa pasien harus tunggu sampai 4 bulan untuk radiasi?

Segitu mahalnya kah mesin radiasi?

Well, saya tau, pasti memang iya. Tapi, berapa sih tepatnya?

Saya penasaran. Kalo cuma 1M, masa iya sih gak ada yang mau biayain.

Saya pun googling.

Dan inilah hasilnya.


Tiga juta dolar.

Wah. Masih kalah sama Dono. Doski jaman dulu aja udah enam juta dolar.

Anyway, 3 juta dolar kalo dirupiahin kira-kira segini.



Glek banyak banget nol-nya! Itu sih gak bisa kalo mau pake crowdfunding  *tutup-tutupin window kitabisa.com dan gandengtangan.com sambil ternganga*

Kalo nol-nya diurutin pake excel, itu bunyinya 41 miliar rupiah.

Wah. Semahal itu ya.

Gile lu Don, gak nyangka badan lu mahalnya bisa dua kali lipet  *terharu*

Wah kayaknya, lupakan aja deh impian crowdfunding. Itu cuma bisa pake uang negara :)

Isunya juga gak sampe di situ aja kan.

Beli mesin radiasi kayaknya beda, ya, sama beli mesin fotokopi. Gak bisa tinggal colok listrik dan langsung jalan hehe :)))

Instalasi alias pemasangan pasti juga butuh biaya. Dan kayaknya, butuhnya gak sedikit.

Estimasi biaya di bawah ini mungkin bisa sedikit memberi gambaran. (ini biaya membangun satu gedung dengan 5 mesin radiasi proton)



Nah, bisa dilihat, kan.

Pembangunannya aja segitu. Belum mesinnya.

Belom kalo ada bahan-bahan yang mesti dibeli untuk bahan baku radiasi-nya. Hmm, itu apa ya? Uranium? (maaf saya awam, nih!) Itu pasti mahal, deh.

Terus, karena itu radioaktif, pasti pengolahan limbahnya juga akan ribet. Mesti hati-hati pula. Dan segala sesuatu yang butuh extra care itu kan sama dengan extra money.

Jadi, mulai dari instalasi dan set up perdana, hingga keseluruhan maintenance harian, itu paaasti amat mahal.

Belum biaya yang harus ditanggung oleh BPJS. Ternyata, 60 detik itu harganya 5 jutaan, ya. Satu menit 5 juta. Dua jam enam miliar. Kalah resepsi nikahan!

Hmph.

Apakah negara gak mampu?

Ada yang tau gimana caranya supaya negara mau beliin kita mesin baru dan urus maintenance-nya?

Any answers will be much appreciated.

Artikel dan data dari Forbes

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Tuesday, December 29, 2015

Info Thalidomide

Info untuk rekan MMers dan caregiver di Jakarta,

Thalidomide bisa didapat di dua tempat berikut:

1.  Hematologi RSCM



  • Tel. 021-3926286
  • Letaknya di Sekretariat Hematologi, ya, BUKAN di Poli. Letaknya di lantai 1 belakang, dekat Pusat Jantung Terpadu.
  • Buka Senin sd Jumat jam 09.00-16.00.
  • Harga Rp20.000,-/kapsul 50mg
  • Harus bawa resep dokter RSCM atau Dharmais.



2.  Toko Sinar Sehat, Pasar Pramuka


Tel. 021-8581233

  • Lantai dasar, cari aja toko yang paling rame.
  • Buka Senin sd Sabtu, jam 08.00-16.00
  • Harga Rp20.000/kapsul 50mg
  • Bisa tanpa resep.


Yang dijual sama, merknya Thalide 50mg dari United Biotech India.



TIP: Telepon dulu untuk cek ketersediaan obat.

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Thursday, September 10, 2015

Review RS MRCCC Siloam Semanggi

Okaay, setelah pertama kali merasakan dirawat di MRCCC, mari kita langsung review.

Rumah sakitnya enak dan nyaman banget!! Jaaauh lebih cakep daripada RS Pondok Indah.

Lobi 

Setdah cakep banget. Kayak mall. Ada Starbucks, toko buku Books & Beyond, minimarket Boston. Tengah-tengahnya ada piano yang autoplay. Kadang ada yang mainin juga sih sama live singing. Persis mall, kan :D

Lift ada 6. Karena gedung MRCCC ada 36 lantai, masing-masing lift punya destinasi lantai yang berbeda. Dua lift di sebelah kanan berhenti di tiap lantai. Tiga lainnya hanya berhenti di lantai 25 sd 36. (Yang ini naiknya cepet banget.) Satu lagi lift khusus pasien.

Lobi ini di lantai 4. Di atasnya di lantai 5 ada ATM Center, counter BNI 46, dan restoran Peach Garden. Sepi restonya. Mungkin karena mahal ya hehehe. Dan ini restonya keren banget. Bener-bener kayak resto mahal di mall.

Tenang. Buat yang model kayak saya, ada kantin-slash-warteg di depan RS. Tinggal nyeberang, agak kanan dikit ada Kopkar Sampoerna Strategic Square.








Ibu nunggu boarding SQ :p

Kamar

Plus:
- Nyaman dan luas.
- Murah. Kelas 3 cuma Rp175.000,-/hari.
- Legaaa banget. Padahal sekamar 8 orang. Ini karena desain kamarnya seperti huruf U.
- Ada 2 toilet dan 1 ruang mandi (shower room) yang super nyaman.
- Kamar sangat bersih, lapang, dan bener-bener nyaman.
- Desain dashboard (yang di atas kepala pasien) fungsional, simpel, dan cakep

Minus:
- Penunggu pasien gak boleh bawa tikar, bantal, dan atribut nginep lainnya
- Cuma ada bangku satu, itu juga gak enak kalo buat duduk lama. Keras dan kokoh soalnya.

Tips:
- Bawa sajadah atau karpet kecil kayak selimut. Buat duduk di bawah. Jangan lupa lipat lagi kalo udah selesai. Jangan bertebaran.


Ini foto-foto kamarnya





Dashboard panel pasien. Asik colokannya banyak :D





Lemari pasien. Bagus bahannya. Pegangannya juga enak. Pintu paling bawah pake magnet, dan pas nutup muluuus banget. Ga ada suara samsek :D



Hand disinfectant ini ada di tiap tempat tidur.



Meja tinggi untuk dokter, suster, dan keluarga berdiskusi dan nulis-nulis. Tingginya pas. Enak buat ngobrol atau nulis. Biasanya makanan juga taruh di sini. Baru dipindah ke tray yang di lemari.




Ruangan kamar (satu sisi aja. Sisi sebelah sama persis.)

Penataan bed pasien kayak huruf U. Jadinya luas. Space yang di tengah untuk 2 toilet dan 1 shower room.




Toilet ada dua. Di ujung kanan-kiri. Yang tengah shower room.







Shower room. Buat mandi. Ada air panas.




Enak ya :D  Nyaman banget deh pokoknya. Wangi lagi :)

Next.


Suster

Plus:
- Baik-baik, ramah, sangat membantu.
- Enaaak banget layanannya :)
- Suaranya enak, senyumnya enak, wajahnya ramah, pokoknya top lah. Oke banget.

Minus:
- Kadang suka lama  :(
- Nurse station suka sepi gak ada orang.


Bill

Nah ini yang penting.

Surprisingly, kalo ditotal-total, MRCCC sama aja JMC. Malah lebih murah :D

Obat:
- Obat Levofloxacin Rp110.000 di MRCCC. Kalo di JMC Rp113.000.
- Infus NaCL 100ml Rp10.600 di MRCCC. Di JMC ga pake NaCL, tapi pake Asering 500ml Rp22.300 di JMC. Ini bukan perbandingan yang imbang sih emang. Soalnya beda barang, beda size juga.

Suntikan
- 3ml: Rp5.775 di MRCCC versus Rp9.900 di JMC
- 5ml: Rp7.095 v Rp14.300
- 10ml: Rp9.240 v Rp ga tau berapa. Ini gak kita pake di JMC.

Yang gak kira-kira itu
- Pampers Rp24.750 (MRCCC) vs Rp6.500 (JMC) padahal sama persiiiiss! Ckckck bisa sampe 4x lipatnya gitu.
- Glove tissue DO Care 4's buat lap badan Rp34.650. Ini sih sebenernya bisa pake washlap biasa aja -__-




Satu lagi yang bikin mahal adalah IGD. Mahal karena harus lab macem-macem, jadi kayak medical check up kecil gitu lah. Itu yang bikin mahal.

Cek lab emang prosedur standar semua IGD sih, untuk mastiin kondisi pasien gimana. Tapi biaya lab di MRCCC emang lebih mahal sih.

Kalo emang mau dirawat, mending ke dokter dulu baru minta surat pengantar rawat inap. Gak usah via IGD.

Overall rawat inap 3 hari abis 3 jutaan. Sehari sejuta lah. Sama sih ya kurang lebihnya sama JMC.

Tips:
- Bawa pampers sendiri. Kalo gak ada, beli di Boston di lobi. Rp57.000/pak isi 10 pc.
- Bawa washlap (woslap) sendiri buat mandi pagi. Jangan lupa wadah kecil buat air dan sabun.
- Kalo mau dirawat, ke dokter dulu utk minta pengantar rawat inap. Jangan via IGD.


:::::::::


Baiklaaah demikian review RS MRCCC Siloam Semanggi.

Overall kami sangat amat puas.

Sangat amat puas.

Five stars :)  ★★★★★

==================

UPDATE 6 JULI 2020
PROSEDUR BPJS RS MRCCC SILOAM SEMANGGI 
Dari Mbak Windy

kirim WA ke nomor 081511500181 untuk tanya prosedur daftar janji temu dengan dokter dan sudah dijawab sbb :

Membuat reservasi, reschedule dan menanyakan info lebih lanjut harus datang langsung ke bagian BPJS jam operasional Senin-Jumat jam 07.00-15.00 di Lobby (LB) dengan membawa persyaratan berupa:
-Fotocopy KTP
-Fotocopy Kartu BPJS
-Fotocopy KK
-Fotocopy surat rujukan online dari Faskes 1 -> RS tipe B/C -> MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.
-Fotocopy hasil Patologi Anatomi atau hasil Biopsi

================


**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Baca juga: 
Horee! RS MRCCC Siloam Semanggi Terima Pasien Kanker BPJS! :D

Wednesday, September 9, 2015

Dirawat di MRCCC Siloam Semanggi


Coba tebak kita abis dari mana.

MRCCC Siloam Hospital, hyahahaha.

Akhirnya dirawat juga di situ xD

I know, I know. Di postingan dulu-dulu saya dan Ibu sempet bilang gak mau berobat ke sana. Saya gak mau terlalu mewah, dan Ibu juga pengennya di Dharmais aja yang udah biasa ke sana. Ehhh, ternyata akhirnya butuh juga. Alhamdulillah Ibu pun nyaman di MRCCC :)

Jadi awalnya itu adalah, Ibu batuk pilek. Lama-lama kok gak baik-baik. Malah makin parah. Batuknya makin berat, badan Ibu panas, napasnya senep dan gak bisa tidur. Gak bisa makan pula karena gak napsu. Tiap saat dia mengerang kayak kesakitan.

Akhirnya Ibu kami bawa ke RS JMC. (Padahal kemarin abis kontrol ke dr. Nugroho.) Di JMC, Ibu masuk via IGD. Dokter jaganya namanya dr. Junan, dan kebetulan dokter jaga di Dharmais juga. Pas kami bilang pasien dr. Nugroho, dr. Junan tanya-tanya.

- Ada resep gak dari dr. Nugroho?
- Ada. Antibiotik Cefadroxil dan OBH.
- Harusnya itu diminum aja. Soalnya Ibu kemungkinan besar ada infeksi di paru. Opa itu dokter yang paling gak pernah kasih antibiotik kalo gak perlu banget.

Glek. Nyesel banget. Kemarin Ibu minta minum antibiotiknya tapi gak saya kasih. Karena saya yakiiin banget Ibu cuma batuk pilek biasa. Gak butuh antibiotik. Pas kontrol kemarin dr. Nugroho juga gak meriksa apa-apa sama sekali, cuma ngeliat dari jauh aja, trus langsung ngeresepin. Berarti sebenernya gak apa-apa, kan? Gitu pikiran saya.

Ternyata... Emang beda ya pengalaman dokter puluhan tahun di Dharmais sama cuma bekal baca-baca di internet doang  :'(

Makanya jangan sok tau  :'(  Nyesel banget... Nyesel gak nebus obat... Nyesel gak percayain dr. Nugroho dan udah jadi sok pinter  :'(

Ya udah, abis itu kami minta rawat inap karena Ibu lemah dan nahan sakit terus. At least untuk perbaikan kondisi umum dulu aja.

Hasil ronsen menunjukkan positif pneumonia interstitialis. Ibu sempet diberi inhalasi dan dikasih dua antibiotik: Ceftriaxone dan Levofloxacin via infus.

Sebenernya JMC itu bagus. Bapak yang hipertensi, detak jantung tak teratur, post-stroke dan ginjalnya menurun pun dirawat dengan baik oleh tim dr. Maruhun Bonar di sana. Cuma, karena Ibu kasusnya spesial MM, kami sekeluarga jadi deg-degan tiap kali mau diberi obat. Ini boleh gak ya? Itu boleh gak ya? Jadi khawatir terus. Jangan-jangan gak boleh.

Kami udah bilang sih kalo Ibu ada MM. Cuma, kami ngerasa lebih baik jaga-jaga aja deh. Udah gitu, nanti hematolognya baru lagi. Dokternya jadi dua deh. Wah. Lumayan juga kalo bayar sendiri. Ibu pun udah minta pindah ke Dharmais. Maunya sama dr. Nugroho. Yawis artinya kami sepakat untuk pindah.

Saya minta kakak jelasin ke Ibu kalo Dharmais antriannya paaanjang banget. Kalo mau cepet, mendingan ke MRCCC. Di sana sama dr. Nugroho juga. Ibu tadinya tetap mau Dharmais, tapi akhirnya mau juga ke MRCCC.

Kami hanya semalam di JMC, besok siangnya langsung pindah ke MRCCC. Dokter JMC juga langsung mengizinkan.

Di MRCCC, Ibu masuk via IGD. Ibu dicek semua mulai dari darah lengkap, SGOT SGPT glukosa dll. Mirip medical check up mini lah. Habis itu pindah ke kamar.

Sebelum Ibu datang, saya dan suami udah duluan ke MRCCC. Kami konfirmasi ke suster IGD kalo Ibu pasien dr. Nugroho, dan mau pindah ke sini dari RS lain. Penjelasan susternya oke banget. Lengkap, jelas, ramah, dan sangat membantu. Menyenangkan banget. Namanya Suster Tantria. (Rambutnya keren lagi. Bob superpendek tapi poninya panjang. Asik deh.)  Kami juga ngecek ketersediaan kamar di bagian admission rawat inap. Alhamdulillah kelas 3 masih ada. Ini yang paling murah. Per hari Rp175.000,-.  Setelah semua sudah oke, baru Ibu kami bawa ke MRCCC.

Kami pakai pembayaran pribadi. Bukan BPJS.

Kalau BPJS, masuknya harus dari poli BPJS. Baru nanti dikasih pengantar rawat inap. Dokternya juga tertentu saja. Karena Dr. Nugroho gak termasuk yang dicover BPJS, kami lewat jalur pribadi dulu.

Ibu dirawat di kamar 3006 di lantai 30. Sekamar ada 4 orang, tapi kemarin Ibu cuma berdua sama sebelahnya. Dr. Nugroho udah dihubungi oleh petugas IGD dan beliau udah oke mau rawat inap.

Ini pertama kalinya kami berobat di luar Dharmais, tapi alhamdulillah dr. Nugroho inget sama Ibu. Pasien MM Dharmais yang pake Askes. Yang pensiunan Depdagri. Yang anaknya suka bolos kerja nganterin Ibu ke Dharmais.

Ruangan dan fasilitasnya enaaak banget  :)  Nanti silakan liat review-nya di postingan abis ini ya.

Pas keesokan pagi saya datang, saya ngeliat dr. Nugroho di lobi. Rupanya beliau juga baru sampai.

Saya melambaikan tangan. Dr. Nugroho langsung nyamperin.

- Kenapa Ibu?
- Batuk-pilek gak baik-baik. Trus anget. Napasnya juga senep. Kayaknya juga nahan sakit.
- Iya itu kelamaan batuknya jadi masuk ke paru-paru. Kok gak di Dharmais? Lama ya antrinya?
- Iya. Makanya ke sini dulu. Yang penting sama dr. Nugroho Ibu maunya.
- Ya udah nanti saya ke sana. Saya mau ke (poli) bawah dulu.

Fyuh, alhamdulillah dr. Nugroho baiiik banget  :')  Alhamdulillah udah ketemu juga. Berarti saya gak ketinggalan visit pagi.

Setibanya di atas, Ibu habis sibin (bahasa jawa, artinya mandi pake lap badan). Dua jam kemudian, sekitar jam 9-an, dr. Nugroho visit. Saya nyeritain riwayat treatment sebelumnya di JMC, dikasih Ceftriaxone dan Levofloxacin. Kata dr. Nug, Levofloxacin lanjut aja, tapi Ceftriaxone diganti sama Cefotaxime. OBH tetap diminum 4 kali sehari. Soalnya batuknya banyak banget dahaknya.




Pas ngeliat hasil ronsen, dr. Nug bilang ada infeksi di paru-paru, tapi sedikit. Gak apa-apa.

Dr. Nugroho juga ngasih tau kalo BPJS harus dari awal. Tapi beliau bilang, paling dirawat 3 hari aja. Treatment hanya dua antibiotik tadi aja. Sama OBH.

Hari pertama dirawat berjalan biasa aja, alhamdulillah. Saya pulang sore untuk gantian jaga sama asisten. Besok paginya pas saya datang agak siang, ternyata.... IBU UDAH BOLEH PULANG!!  :)))

Saya ketinggalan visit dokter, tapi intinya gitu. Ibu udah boleh pulang. Bahkan lebih cepet dari perkiraan dokter yang 3 hari.

Di rumah nanti minum antibiotik Cefadroxil 500 mg, sehari 3x, sebanyak 20 butir sampe abis gak boleh putus. Sama OBH juga lanjut. Sama persis kayak resep pas kontrol di Dharmais kemaren :))  Makanya jangan sok tau ya Mbak Widya...

Kami langsung mengurus semuanya dan pulang sore itu juga. Alhamdulillah.

Oh ya, untuk review MRCCC Siloam Semanggi silakan liat postingan ini ya.

Makasih yah buat semua yang udah doain Ibu :')

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Baca Juga:
Horee! RS MRCCC Siloam Semanggi Terima Pasien Kanker BPJS! :D
Review RS MRCCC Siloam Semanggi

Wednesday, April 22, 2015

Melphalan Udah Gak Respons, Dikasih Opsi Ganti Velcade

Jumat kemarin Ibu kontrol rutin ke Dharmais.

Hasilnya kurang baik. Angka globulin tinggi, artinya sel-sel multiple myeloma tetap aktif. Padahal Ibu baru aja minum Melphalan.

Komponen darahnya juga udah lebih hancur daripada dulu. Semua angkanya turun. Hb, darah merah, darah putih, semuanya. Hb jadi cuma 9.2 padahal sebelumnya selalu di atas 10.

Respon tubuh Ibu terhadap Melphalan udah gak sebagus dulu lagi. Kami pun mulai cari opsi treatment lain.

Thalidomide dulu udah pernah dan gak cocok (jadi merah-merah di kulit).

dr. Nugroho lalu ngasih opsi pake Velcade. Dikasih via infus.


Cuma, Velcade ini mahal. Satu botol 3,5 ml bisa 11 juta rupiah (harga di MIMS.com). Trus harus ada partner-nya, soalnya yang dipake 1,5 botol. Sayang separuh botol lagi. Makanya mendingan berdua.

Dalam sebulan Velcade dipake 4 kali, jadi seminggu sekali. Dan kalo ditotal-total, sebulan bisa keluar 50 juta.

Barusan telfon BPJS Dharmais, dan mereka belum cover Velcade :(

In fact, BPJS belum meng-cover obat-obat lain untuk multiple myeloma selain Melphalan :(

Saya iri banget sama penyandang multiple myeloma di Amerika Serikat. Mereka bisa enak banget gonta-ganti coba-coba obat terbaru. Pomalyst, Kyprolis (apalagi Velcade, Revlimid, Thalidomide, itu sih mungkin bagi mereka udah basi ya) dan segala bentuk opsi seperti transplantasi sumsum. Bahkan sampe ikut clinical trial obat-obat yang lebih baru.

India bahkan lebih maju dari Indonesia. Di sana, Thalidomide udah jadi obat generik. Bisa dibeli di pasar. Cuma emang harganya masih mahal. Kisaran INR 750-915 (Rp154.000 sd Rp188.000) untuk 10 tablet @ 100 mg. Satu tabletnya 15-18 ribuan lah. Tapi mereka udah bisa bikin obat itu sendiri. Keren kan!

Tapi Velcade lebih mahal di sana (INR 60.630 atau sekitar Rp 12 juta). Di sini 'cuma' Rp10,350,000 (MIMS.com). Velcade emang belom ada generiknya sih.

Di Yayasan Kanker Indonesia juga gak ada Velcade. Kemarin saya telfon, dengan harapan bisa dapet lebih murah. Tapi mereka gak ada, dan nyaranin ke Dharmais.

Solusi sementara ini, kami sepakat memperpanjang hari Melphalan. Sebelumnya hanya diminum selama 5 hari. Sekarang selama 7 hari. Dosisnya tetap sehari 4 tablet, dua pagi dan dua malam.

Ngeliat hasil lab darah Ibu yang hancur semua, saya was-was sebenernya kalo harus memperpanjang Melphalan. Gimana recovery darahnya.

Tapi ya gimana lagi, dicoba aja dulu. Kami akan mempertahankan kekebalan tubuh Ibu dengan minum vitamin biar tetap kuat.

**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Friday, April 17, 2015

Hidup dengan Multiple Myeloma

Terinspirasi dari blog bapak ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang multiple myeloma atau kanker plasma darah.

Ternyata belum banyak yang nge-share pengalaman multiple myeloma di Indonesia. Saya cuma nemu satu di blog tadi. Padahal, saya yakin gak cuma sendirian :)

Saya ingin berbagi cerita, semoga bisa menjangkau rekan dan keluarga sesama penyandang kanker plasma darah yang langka ini, dan sama-sama saling menguatkan :)

Multiple myeloma adalah kanker langka di mana sel-sel plasma darah berkembang terlalu banyak hingga mengganggu bagian tubuh lainnya, seperti tulang dan ginjal.

Tanda-tanda multiple myeloma adalah CRAB.

  • Calcium elevation (kalsium darah naik) jadi >11.5 mg/dL
  • Renal insufficiency (penurunan fungsi ginjal) dengan kreatinin >2 mg/dL
  • Anemia dengan hemoglobin <10 g/dL
  • Bone disease (sakit pada tulang) yang ditandai litik. Kalo dironsen, bentuknya titik-titik kecil. Tandanya di situ udah bolong. Selain litik, bisa juga osteopenia (berkurangnya kepadatan mineral tulang)

Yang punya multiple myeloma bukan saya, tetapi Ibu saya. Beliau telah 4 tahun hidup bersama multiple myeloma atau kanker plasma darah. Kini usianya 67 tahun.

Dokter pertama kali menemukan multiple myeloma di tubuh Ibu bulan Juni 2011. Waktu itu, Ibu mengeluh pinggang belakangnya sakit. Beliau kira keseleo saat turun dari angkot.

Makin lama pinggangnya makin sakit. Ibu gak bisa bergerak, dan gak bisa bangun dari tempat tidur. Setiap bergerak, Ibu kesakitan. Saya masih inget kakak dan kakak ipar laki-laki menggotong Ibu ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit, dan meski mereka udah halus dan hati-hati banget, Ibu tetep nangis karena punggungnya sakiiit sekali.

Ngeliat itu rasanya mau ikutan nangis. Ibu keliatan lemah. Badannya kuruuus seperti tengkorak. 

Awalnya Ibu dirawat di sebuah RS di Jakarta Selatan. Meski di sana sempat ada pengalaman gak enak, kami bersyukur kankernya cepat ditemukan.

Di sana, Ibu melalui beragam tes, antara lain:
1.  Protein Bence Jones dalam urin
2.  Bone marrow puncture (BMP) untuk mengambil sampel sumsum tulang
3.  Elektroforesis protein

Semua tes menunjukkan Ibu positif multiple myeloma.

Kami sempat terpikir ke alternatif, tapi gak jadi. Pertama, gak ada jaminan berhasil. Kedua, takut gak cocok. Kasian Ibu nanti kalau kenapa-kenapa. Apalagi beliau sudah usia.

Akhirnya kami putuskan berobat di Dharmais, Jakarta Barat. Pertimbangannya, di sana pusat kanker nasional. Semua riset dan dokter spesialis kanker ngumpul di sana. Kalo ada update apa-apa di dunia per-kanker-an, mereka yang paling pertama tau. Dan banyak juga penyandang kanker lain yang sama-sama berobat, jadi ada temennya. Bisa saling support dan menguatkan.

Di Dharmais, Ibu berobat ke dr. Nugroho Prayogo, SpPD, KHOM. Beliau salah satu dari sekian banyak konsultan hematologi-onkologi medik yang mendalami kanker darah di Dharmais (hematologi=darah. onkologi=kanker).

Pas pertama kali konsul ke situ, saya konsul berdua sama kakak. Ibu belum saya bawa. Saya pingin pastiin dulu sebelum pindah, untuk dapet gambaran kondisi Ibu udah sampe mana menurut dokter Dharmais. Lalu gimana treatment plan-nya. Konsul perdana ini sekaligus buat 'nyobain' dokternya enak apa nggak buat konsultasi.

Di Dharmais, sama dr. Nugroho alhamdulillah kami cocok. Beliau komunikatif, dan gak segan-segan bagi ilmu. Beliau langsung nunjukin saya resource materials untuk dibaca-baca pake iPad-nya (waktu itu iPad masih jaman banget xD), dan kita diskusi soal treatment-treatment terkini untuk multiple myeloma. 

Beliau menyarankan saya buka-buka American Cancer Society di http://www.cancer.org/cancer/multiplemyeloma/ 

Di situ lengkap banget semuanya tentang multiple myeloma. Dari mulai tanda dan gejala, obat-obatnya, cara mengetahui udah stadium berapa, sampe riset terbaru apa aja. Semua info sangat terbuka untuk kita. Memang pake Bahasa Inggris, tapi gak sulit-sulit amat kok. Cukup mudah dimengerti. Artikelnya juga pendek-pendek jadi ringan dibaca.

Saya juga suka yang dari Mayo Clinic karena sangat mendasar, dan enak gampang dibaca juga. Liat di http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/multiple-myeloma/basics/definition/con-20026607

Yang paling ho-oh adalah dari National Comprehensive Cancer Network (NCCN) Guidelines for Patients in Multiple Myeloma Version 2015 yang bisa di-download gratis dari http://www.nccn.org/patients/guidelines/myeloma/index.html
(Buat aja akun di situ. Gratis, cuma sebutin email doang.)

Yang dari NCCN ini super lengkap dan enak banget. Udah dibikinin bentuk buku sama dia. Cuma, bahasa Inggrisnya emang lebih mikir sih daripada yang cancer.org dan Mayo Clinic.

Nah, kalo yang ini versi ringkasnya NCCN. Okeh nih yang ini. Bahasanya masih ringan dan mudah dipahami. Langsung ke http://emedicine.medscape.com/article/204369-overview  Kalo mau yang paling lengkap tapi ringan dan mudah dibaca ya emedicine ini.

Penting lho pengetahuan-pengetahuan ini bagi pasien dan keluarga. Biar bisa paham apa yang terjadi :) Ada juga informasi dan dukungan bagi keluarga yang merawat. Gimana biar gak stres, dan sebagainya. Itu akan nolong kita juga.

Saya pernah menerjemahkan beberapa booklet multiple myeloma itu ke Bahasa Indonesia untuk Ibu. Tahun 2011 sih, udah ketinggalan 4 tahun, pengobatan udah lebih maju banget. Kayaknya udah gak relevan. Mudah-mudahan saya punya energi untuk terjemahin yang baru-baru ya. Doakan! :D

Okeeh back to story.

Intinya, dr. Nugroho terbuka banget dan mau sharing soal ilmu. Setelah semua data lab lengkap, kami bahkan sama-sama ngitung Ibu udah stadium berapa. Baik dari system Durie-Salmon maupun International Staging System. 

NCCN Guidelines version 4.2015 for Multiple Myeloma
Hasilnya, alhamdulillah Ibu masih stage I. Ini pake yang ISS. Kalo pake Durie-Salmon agak lupa, kayaknya stage I tapi lewat-lewat dikit deh. Soalnya hasil lab kalsium dan protein Bence Jones di RS lama. Gak kesimpen. Nilai IgG dan IgA juga gak diperiksa di lab. 

Dr. Nugroho juga suka kasih saran untuk simpen record sendiri dan dibikin grafik. Mungkin beliau ngeliat saya rajin cari info dan rajin nyatet ya, hehe. (Yap. Harus. Saya harus punya catatan medis sendiri.)

Saya selalu nyatet hasil lab dan treatment untuk multiple myeloma Ibu. Termasuk kapan visit dokter dan treatment pendukung lainnya. Sederhana aja sih catetannya. Yang penting ada datanya. Buat kroscek juga sama catetan medis rumah sakit.

Bagi saya ini penting banget. Kita jadi bisa liat sendiri apa-apa aja yang udah dilakuin, kemo udah berapa kali dan sampe mana, dan gimana respons Ibu terhadap pengobatan.

Biasanya saya akan print blangko kosongannya dulu. Nanti saya simpen di folder khusus (untuk multiple myeloma Ibu) dan ditulis tangan. Abis itu baru diketik dan simpen di cloud. 

Pengen dibikin grafik sih tapi belom sempet-sempet hehe.

Bentuknya kayak gini. Sederhana aja sih 


Dicatet udah kemo keberapa, melphalan diminum tanggal berapa dan dosis mg/hari. Beta-2 mikroglobulin angkanya berapa. Begitu juga komponen darah dan lain-lain. 

Kalo mau download silakan langsung klik di sini.

~ UPDATE 23 JUNI 2015 ~
Saya bikin template grafik baru yang memudahkan monitoring kondisi MM. Bisa diliat trennya makin naik atau turun. Langsung liat dan download gratis di posting yang ini.

Datanya silakan sesuaikan sendiri ya. Sukur-sukur ada yang punya format lebih bagus, saya mauuu! :D

Okeeeh back to storyyy (dari tadi kemana-mana terus hihi)

Singkat kata, akhirnya kami sekeluarga sepakat pindah ke Dharmais. Agustus 2011, Ibu memulai dengan serangkaian tes:

1.  Imunofiksasi serum, untuk  menentukan jenis imunoglobulin (antibodi) M-protein yang gak normal. Ini khas banget multiple myeloma. Yang dicek adalah IgG, IgA, IgM, Kappa dan Lambda. Hasilnya, Ibu punya abnormalitas di IgA Kappa.


2.  Bone survey, untuk melihat sejauh mana kerusakan tulang yang disebabkan oleh multiple myeloma. Ini kayak foto ronsen aja sih.

Hasil kesan bone survey:
"Gambaran multiple myeloma pada cranial dan femur. Fraktur kompresi L1 dan L2 disertai listhesis L5-S1. Osteoporotik. Anjuran: MRI lumbosacral."

Ini bahasa orangnya kira-kira: "Ada multiple myeloma di kepala dan betis. Tulang di pinggang jadi pendek karena tertekan. Ada pergeseran di tulang pinggang bawah dan tulang ekor bagian atas. Ada pengeroposan."

3. Beta-2 mikroglobulin, ini jenis protein yang angkanya bakal naik kalo ada multiple myeloma. Tes ini bisa dipakai untuk memperkirakan gambaran ke depan (outlook/prognosis) dan juga mengawasi hasil treatment. 

Di Ibu angkanya 2626.0 dari normal 830-1150 ug/L. 

Tiga hasil tes ini makin menegakkan diagnosis ke-multiple-myeloma-an Ibu :D

Oh ya hasil Bone Marrow Puncture tadi belum ya. Padahal ini nih justru hasil lab kuncinya. Yang selalu dicari-cari sama petugas BPJS Dharmais ("Patologi anatomi-nya mana?") :D

Ini dia kesimpulannya:

"- Kelainan morfologi: Plasmosit bentuk abnormal (+)

- Morfologi eritrosit: Normositik monokrom, rouleaux (+)

- Kesimpulan:
Kepadatan sel Hiperseluler.
Aktivitas eritropoiesis tertekan.
Aktivitas granulopoiesis normal.
Aktivitas trombopoiesis tertekan. Ditemukan banyak sel plasma (21.0), bentuk abnormal (+).

- Kesan: Sesuai multiple myeloma

- Saran:
Protein elektroforesis
Imunofiksasi protein serum & urin
Free light chain assay"

Hmm. Sesuai multiple myeloma. Ibuku positif kanker :)  Gapapa, kami terima :)  Yang penting gimana ke depannya supaya kualitas hidup Ibu tetap baik, dan beliau merasa nyaman.

Setelah semua rangkaian tes dinilai cukup, Ibu memulai rangkaian kemoterapi.

Ibu diberi Melphalan dan Prednisone.

Awalnya Melphalan (Alkeran) diberikan 10mg sehari dalam 2x minum (total 5 tablet @ 2mg). Dua setengah tablet pagi, dua setengah lagi sore. Selama 5 hari.



Tapi, karena Ibu merasa sangat pusing dan sakit kepala, Ibu minta dosisnya dikurangi. Kebetulan beliau juga berbobot ringan (47kg) dan dosis Melphalan memang tertulis 150mcg/kg berat badan/hari di kertasnya, jadi sebenernya Ibu cuma butuh 7mg/hari. Dokter pun setuju dosisnya diturunin jadi total 8mg/hari, dua tablet pagi, dua tablet sore. 

Melphalan ini nih inti kemoterapinya Ibu. Obatnya keras banget. Bisa bikin kerusakan janin pada ibu hamil. Sampe sekarang saya masih bergidik kalo megang tabletnya. Huruf "A" di atas warna putihnya seolah memperingatkan "Bahaya". (Yes, saya penakut :p)



Kalo Prednisone diberikan 5 tablet x 3 kali sehari. Jadi total sehari 15 tablet. (Tenaaang, prednison ini tabletnya mini-mini unyu warna ijo stabilo. Gak nyeremin kok :D)

Progres treatment dimonitor dari level beta-2 mikroglobulin. Dan alhamdulillah angkanya makin turun. Dari 2626 di Agustus jadi 1237 di Desember. Bahkan sempet normal 1147 di November. Artinya, multiple myeloma-nya bisa dikendalikan.

Oh ya. Efek samping tiap kemoterapi pasti ada. Ibu alhamdulillah cuma penurunan hemoglobin, sel darah merah dan putih, hematokrit. Hb normal harusnya 12-14. Selama 5 bulan kemo, Ibu sempat turun 2 poin dari 12.2 jadi 10.5 di Desember. 

Dokter bilang hb 10 masih bagus, dan alhamdulillah lain-lain gak ada. Biasanya setelah 6 kali minum melphalan, Ibu akan 'libur' dan gak minum apa-apa sama sekali untuk mengembalikan sel-sel darahnya. 

Ibu sempat mencoba Thalidomide di tahun kedua. Belinya di RSCM. Tapi beliau gak cocok. Kulitnya jadi merah-merah. Sempet difoto sama dr. Nugroho, katanya lagi ada kajian di BPJS untuk masukin Velcade (obat multiple myeloma juga kayak Melphalan dan Thalidomide) supaya bisa ditanggung BPJS. Belum cek lagi udah masuk BPJS apa belom.

Selain kemo Melphalan, Ibu juga diberi Bonefos (Disodium clodronate) untuk 'mengisi' tulang-tulangnya yang digerogoti sel-sel multiple myeloma. Bonefos ini diberikan via infus, jadi harus rawat singkat (one-day care).
Awalnya Bonefos tiap bulan. Makin lama jadi dua bulan sekali saja.

Pernah juga coba Zometa (Zoledronic acid), tapi kata dr. Nugroho, risiko nekrosis rahang lebih tinggi. Nanti rahangnya jadi kaku-kaku, dan bisa copot-copot giginya. Jadi balik ke Bonefos lagi.

Sampai hari ini Ibu tetap menjalani regimen Melphalan dan Prednisone (plus Bonefos).

Beliau alhamdulillah kembali bisa melakukan aktivitas ringan seperti memasak, menyapu, dan berkebun. Tapi Ibu gak bisa lagi naik-naik tangga. Jalannya pun sudah pelan. Kalau duduk gak bisa di bawah. Harus di kursi yang agak tinggi, soalnya tulang punggungnya sakit.

Sekian salam pembukaan dari saya.

Rekan dan keluarga sesama multiple myeloma, silakan komentar di bawah biar kita saling kenal dan saling support ya :)

Gambar dari sini, sini, sini.


**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Gak Jadi Pindah dari Dharmais ke MRCCC

Hari Selasa kemarin saya akhirnya ngunjungin Siloam Semanggi MRCCC untuk survey BPJS.

Katanya, mereka terima pasien kanker BPJS.

Ternyata benar. Semuanya dicover gratis. Dari mulai dokter, lab, obat, kemo, semuanya gratis tis! Wow!

Rumah sakitnya juga baguuus banget. Modern dan kinclong bener. Lantainya, pintunya, kursi-mejanya, dan orang-orangnya. Dalemnya ada kedai kopi Starbucks dan toko buku impor Books & Beyond.

Praktik dokter spesialis hematologi ada di lantai sekian belas (maap lupa ahaha). Ternyata dokternya Ibu di Dharmais juga praktik di MRCCC. Namanya dr. Nugroho. Beliau konsulen hematogi-onkologi. Tapi, beliau gak masuk list dokter BPJS di MRCCC. 

Kalo mau pake BPJS, kami harus ke hematolog yang ada dalam list:
- dr. Toman Toruan (Senin & Kamis jam 19-20)
- dr. Andhika Rahman (Senin, Rabu, Jumat jam 17-19)

(Jadi, gak kayak di Dharmais, kalau di MRCCC dokter yang bisa terima BPJS hanya beberapa aja. Gak semuanya. Nah kita tanya dulu ke petugas BPJS MRCCC-nya.)

Saya juga survey ke apotik dan lab. Semua obat yang biasa diminum Ibu ada. Alkeran (melphalan) waktu itu tinggal sisa 14 butir, dan harus pesen dulu baru bisa dateng lagi. Kira-kira nunggunya tiga hari. Agak beda sih sama Dharmais yang selalu in-stock.

Bonefos ada, tapi mesti pake bukti bahwa kankernya udah metastasis (nyebar) ke tulang. Nah ini yg agak bikin mikir. Soalnya, alhamdulillah Ibu gak sampe metastasis gitu. Baru bikin bolong-bolong kecil aja. *Eh, apa bolong-bolong itu artinya UDAH metastasis ya? Ahaha! *tepok jidat xD *

Takutnya karena syaratnya kayak gitu, ntar diganti sama obat lain yang belum tentu Ibu cocok. Atau yang efek samping jangka panjangnya lebih banyak. (Sebelumnya Ibu pernah pake Zometa sebagai pengganti Bonefos, tapi dihentikan karena risiko kaku rahang lebih besar.)

Tapi, di atas semuanya, kalo jadi pindah ke MRCCC, kami akan sangat kehilangan hal-hal ini:

Ikatan kekerabatan antarpasien erat. Kami saling dukung. Kami saling tolong.

Tiap saya mengantri nomor BPJS, selalu saja ada orang yang memberi nomor antrian yang lebih kecil.

Contohnya hari ini. Mesin antrian rusak. Beberapa orang bergerombol di depan mesin yang tengah diperbaiki teknisi dan staf rumah sakit. Tiba-tiba, entah dari mana, seorang ibu menawarkan nomornya. Saya dikasih satu. Nenek di sebelah saya juga dikasih satu. Kami semua saling mengerti bahwa mengantri amat melelahkan.

Sesama pasien pun sering mengobrol, bahkan yang baru saja kenalan. Di antrian, di lab, di ruang tunggu dan ruang kemo, semua saling menceritakan kisah perjuangan masing-masing. Saling menguatkan.

Kebaikan dan kehangatan inilah yang akan kami rindukan kalau pindah dari Dharmais. Kecil, tapi sangat berarti.

Saya gak tau, tapi setelah melihat Siloam Semanggi yang sepi, ya memang ada bagusnya sih. Jadi antrinya gak lama. Tapi, saya merasa sendirian. Gak ada yang bisa diajak ngobrol. Berasa jadi orang termalang di dunia. 

(Oya itu juga salah satu alasan kenapa kami tetap di Dharmais. Jadi lebih bisa bersyukur. Banyaaak banget yang jauh lebih parah, lebih di bawah, lebih jauh rumahnya, lebih pagi antrinya, ah lebih semuanya deh. Jadi bisa bersyukur dan salut banget sama perjuangan rekan dan keluarga penyandang kanker lainnya *terharu*).

Masih banyak lagi yang akan kami rindukan kalo pindah. Orang-orang Dharmais, staf-stafnya, semuanya. Kayak Mas Dwi di apotik (orang-orang apotik kayaknya bakal masuk surga semua. Sabarnya luar biasa gak terbatas! Amin ya Allah!), Suster Yani-nya dr. Nugroho, mbak-mbak petugas BPJS (saling hafal muka tapi gak tau nama), Bapak doorman, ah banyak. Udah kayak keluarga. Bahkan dr. Nugroho! Kayaknya SEMUA orang yang kerja di sini bakal masuk surga deh. Amiiiiiiiiiiiiiinn!!!

So much human touch we will lose if we're not here anymore.

Esoknya saya tanya pendapat Ibu soal ini. Dari air muka beliau, kayaknya kami gak akan pindah. Dan benar. Ibu bilang, ia lebih nyaman di Dharmais. Selain alasan di atas, kebanyakan suster dan staf di sini berkerudung. Pasien-pasiennya juga. Ibu merasa lebih nyaman di tengah yang sama-sama kerudungan. Soalnya, saat kami saling menguatkan, kami bisa pake 'bahasa' yang sama.

Ini memang soal agama. Tapi bukan yang kayak gitu. Kami percaya di Siloam juga baik-baik semua. Tapi rasanya wajar kalo tiap orang punya preferensi. Ibarat milih baju aja. Ibu lebih suka toko A daripada toko B karena toko A banyak jual motif bunga-bunga. Jadi cocok. Itu aja sih.

Yang penting Ibu nyaman. Saya gak mau, hanya karena saya kepingin yang antrian sedikit, Ibu di sana jadi kepaksa dan gak nyaman. Kasian.

Dharmais juga ada kekurangannya sih. Yaitu jumlah kamar (dan dokter).

Saya belom tau ke depannya gimana kalo Ibu harus rawat inap. Apakah jadi pindah ke MRCCC atau tetap di sini. Soalnya saya pernah diceritain pemegang BPJS yang antri kamar sampe dua minggu belom dapet.

Ibu saya memiliki multiple myeloma (kanker plasma darah) yang cukup langka di Indonesia. Kami berobat di Dharmais sejak 2011.

Semoga Dharmais kamar dan dokternya makin banyak buat nampung pemegang BPJS. Amin.

*** UPDATE 10 SEPTEMBER 2015 ***
Baca juga:
Dirawat di MRCCC Siloam Semanggi
Review RS MRCCC Siloam Semanggi

Sunday, January 11, 2015

Horee! RS MRCCC Siloam Semanggi Terima Pasien Kanker BPJS! :D


*** UPDATE 6 JULI 2020 ***
PROSEDUR BPJS RS MRCCC SILOAM SEMANGGI 
Dari Mbak Windy

kirim WA ke nomor 081511500181 untuk tanya prosedur daftar janji temu dengan dokter dan sudah dijawab sbb :


Membuat reservasi, reschedule dan menanyakan info lebih lanjut harus datang langsung ke bagian BPJS jam operasional Senin-Jumat jam 07.00-15.00 di Lobby (LB) dengan membawa persyaratan berupa:
-Fotocopy KTP
-Fotocopy Kartu BPJS
-Fotocopy KK
-Fotocopy surat rujukan online dari Faskes 1 -> RS tipe B/C -> MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.
-Fotocopy hasil Patologi Anatomi atau hasil Biopsi

*** end of update 6 Juli 2020 ***


Kabar bagus nih buat para rekan kanker pemegang kartu BPJS.

Sekarang RS MRCCC Siloam menerima pasien kanker BPJS.

Jadi ada alternatif rumah sakit untuk berobat selain RSCM dan Dharmais.

Saya lihat iklan ini di halaman 1 harian KOMPAS, Sabtu, 10 Januari 2015. Di pojok kiri bawah. Rasanya seneng banget!

Memang sudah lama saya menanti kabar bergabungnya MRCCC dengan BPJS. Soalnya, rumah sakit ini--menurut saya--rumah sakit yang baik. Dari dulu Siloam memang sudah menerima pasien Askes (sebelum namanya berubah jadi BPJS). Tinggal tunggu waktu aja untuk terima BPJS semenjak diluncurkan awal 2014 lalu. Akhirnya udah resmi deh sekarang :D

Kalo diliat dari website dan berita-berita yang ada, sih, rumah sakit ini peralatannya lengkap banget ya. Silakan browsing sendiri, canggih-canggih bener deh.  Berikut saya kutip dari laman resminya:

MRCCC’s technology is the most advanced and first-of-its-kind equipment in Indonesia, such as Phillips PET/CT, SPECT/CT, 3 Tesla MRI, 256 Multi-Slice CT Scan and Cath Lab, IBA Cyclotron and the Varian Linear Accelerator (LINAC) IX Rapid Arc supported with CT Simulator. This makes MRCCC the only one-stop comprehensive cancer centre in Indonesia MRCCC is among the first in Indonesia to run an integrated computerized and digital information system linking imaging, laboratory, pharmacy and hospital IT services.

Lengkap banget, ya! Sistem informasinya juga udah terintegrasi, jadi semuanya lebih cepat dan efisien.

Cara berobatnya gimana?

Well, jujur saya sendiri juga belom tau. Selama ini saya nganter ibu selalu ke Dharmais. Belum pernah ke MRCCC.

Yang pasti, kalau suatu RS swasta terima BPJS, kemungkinan besar gak akan digratisin penuh seperti di RS pemerintah. Artinya, kita masih harus bayar selisihnya.


*** UPDATE 10 SEPTEMBER 2015 ***

Baru aja dapet brosur Alur Pelayanan Kesehatan Peserta BPJS di MRCC Siloam Hospital Semanggi.



Untuk alur silakan liat gambar ya.

Ini saya tulisin lagi biar gampang liatnya.

Kartu yang diterima:

- BPJS dan e-ID BPJS
- Kartu Indonesia Sehat
- Kartu Jakarta Sehat
- Jamkesmas
- Askes
- Kartu Tanda Anggota Kepolisian RI
- Kartu Tanda Prajurit TNI


Persyaratan berobat peserta BPJS di RS MRCCC Siloam Semanggi (RS Khusus Kanker Tipe A):
  1. SEP (Surat Eligibilitas Peserta). Ini nanti dapet dari counter BPJS MRCCC tiap mau berobat.
  2. KTP
  3. KK
  4. Kartu BPJS (atau sesuai list kartu yang diterma di atas)
  5. Rujukan dari RS Tipe B atau Tipe C kepada MRCCC.
  6. Hasil diagnosa kanker (biasanya hasil lab Patologi Anatomi (PA)) yang diverifikasi Petugas BPJS, lengkap dengan cap dan tanda tangan petugas BPJS
  7. Surat Rujukan Luar Provinsi dari BPJS daerah asal, bagi pasien dari luar DKI Jakarta.
*** end of update 10 September 2015 ***



+++ UPDATE 10 SEPTEMBER 2015 +++

Akhirnya tanggal 6-8 September 2015 kemarin Ibu dirawat di MRCCC  :)

Silakan dibaca-baca di Dirawat di MRCCC Siloam Semanggi

Ada review juga di Review RS MRCCC Siloam Semanggi

+++ end of update 10 September 2015 +++



***UPDATE 14 APRIL 2015***

Tadi pagi saya mengunjungi counter BPJS di RS Siloam MRCCC. Ternyata benar bahwa mereka menerima pasien BPJS penyandang kanker.

GRATIS semuanya dicover. Semuanya. Dokter, lab, obat, rawat inap, kemo, seeemuanya :')

Yang penting bawa dokumen BPJS lengkap sebagaimana di rumah sakit yang sekarang. Harus ada rujukan ke Siloam MRCCC, patologi anatomi (PA) positif kanker, dan kalo bisa bawa resume medis, jadi dokter di Siloam bisa tau dan lanjutin treatment-nya.

Tadi saya juga sempet ngunjungin apotik dan lab, untuk pastiin ketersediaan obat yang biasa dipakai oleh Ibu, yaitu Alkeran (melphalan) dan Bonefos IV. Yang Bonefos ada, tapi Alkeran tinggal 14 tablet. Kalau mau harus order, tiga hari kemudian baru tersedia.

Dokternya juga terbatas. Hanya yang masuk di list BPJS. 

Di Dharmais, dokternya Ibu adalah dr. Nugroho. Beliau praktik juga di Siloam MRCCC, tapi tidak termasuk di list dokter BPJS. Konsultan Hematologi-Onkologi Medik yang termasuk adalah dr. Toman L. Toruan dan dr. Andhika Rahman. Jadi, kami hanya bisa memilih 2 itu. (Semuanya sore-sore beneeer baru mulai jam 5 huhu)  Tapi, kata rumah sakit, kami tetap bisa konsultasi ke dr. Nugroho tanpa memakai BPJS (artinya bayar sendiri). Rate-nya antara 250 sd 500 ribu-an.

Rumah sakitnya enaaak banget. Bersih, modern, dan cakep. Lebih cakep dan nyaman dari RSPI. Ada Starbucks (saya gak ngopi sih, paling makan di warteg depan haha!) dan Books & Beyond di lobi utama. 

Di counter BPJS, antriannya juga dikit. Bahkan nyaris gak ada. Paling banyak cuma 10 orang lah. Bayangin kalo di Dharmais. Dapet nomor 200-an aja udah alhamdulillah :p

Kemungkinan besar kami akan pindah ke Siloam MRCCC. Pertimbangan utama adalah lokasi dekat dan antrian sedikit, jadi lebih efisien waktu dan energi. Terutama untuk Ibu.

Minggu ini Ibu akan lab dan konsul rutin di Dharmais. Kami akan minta pendapat dr. Nugroho dulu. Semoga lancar :)

Karena BPJS sudah meng-cover 100%, tadi saya gak tanya-tanya lagi soal asuransi swasta lainnya. 

Good luck rekan penyandang kanker lain :)

***End of update 14 April 2015***



^^^ UPDATE 17 APRIL 2015: 

Saya dan Ibu sudah diskusi tentang rencana pindah dari Dharmais ke MRCCC, dan keputusannya adalaaah... kami GAK JADI PINDAH KE MRCCC  :) 

Kalo mau tau ceritanya, silakan klik link tadi ya :)  ^^^

^^^ end of update 17 April 2015 


Kalau kamu juga punya asuransi kesehatan lain selain BPJS, bisa pake sistem koordinasi manfaat (coordination of benefit, atau CoB). Nanti kekurangan yang gak dicover BPJS dibayar oleh asuransi yang satunya. Jadi biaya bisa ditekan serendah mungkin, bahkan bisa gratis.

Udah banyak asuransi swasta yang bekerja sama dengan BPJS, antara lain:
  1. Arthagraha General Insurance
  2. Astra Buana
  3. Avrist Assurance
  4. AXA Financial Indonesia.
  5. AXA Mandiri Financial Service
  6. Bina Dana Arta
  7. Generali Imdonesia
  8. Inhealth Indonesia
  9. Jiwa Central Asia Raya
  10. Jiwasraya (Persero)
  11. Lippo Insurance
  12. Mega
  13. Mitra Maparya
  14. Multi Artha Guna.
  15. Sinar Mas
  16. Sinarmas MSIG
  17. Takaful Keluarga
  18. Tugu Mandiri
  19. Tugu Pratama Indonesia
Itu info resmi dari thread kaskusnya BPJS per Juni 2014. Kalo mau lebih lengkap, silakan tanya ke asuransi masing-masing, dan ke MRCCC juga.

Tanyain:
  • Prosedur admission (masuk rumah sakit untuk rawat jalan/inap).
  • Mekanisme bayar dokter, obat, lab, dll. (Kemungkinan besar CoB akan pake metode reimburse, bukan kartu. Syaratnya apa aja.)
  • Limitnya berapa per perawatan. Dan per tahun, kalau ada.
  • Mana yang dicover BPJS, mana yang dicover asuransi swasta. Berapa.
  • Mana yang gak dicover alias harus bayar sendiri.
  • Dll.

Oh ya, buat info aja, nih. Selain 19 asuransi tadi, Siloam juga punya asuransi sendiri. Namanya Mediplus.

Asuransi Mediplus ini bikin penasaran banget. Soalnya, rawat inap dan rawat jalan seluruhnya ditanggung sesuai tagihan, tanpa limit tahunan (baca: gratis! semua-muanya!) Asalkan di jaringan RS Siloam. Preminya pun tergolong murah. Satu orang dewasa 3,78 juta/tahun. Pasangan suami-istri 5,98. Satu anak 6,98, dua anak 7,98. 

Gak ribet, gak perlu medical check up. Langsung disetujui dan semua penyakit pre-existing dicover, kecuali 4:
  1. Kanker/keganasan
  2. Ginjal kronis
  3. Bedah jantung
  4. Bedah syaraf dan otak
Itu pun cuma sembilan bulan pertama doang. Gak pake setahun.

Lho. Tapi kok kankernya justru gak dicover?

Dari yang saya baca, di 9 bulan pertama memang gak akan dicover. Karena itu termasuk pengecualian. Nanti, setelah lewat 9 bulan akan dicover, tapi gak semuanya. Maksimum 60% dari total tagihan per perawatan. Ada limit tahunannya juga, yaitu maksimum Rp 30 juta.
  • Gimana mekanismenya kalo kita pake BPJS + Mediplus?
  • Apa aja yang dicover? (Kamar, dokter, obat, lab)
  • Jika per perawatan kanker habis Rp 50 juta, berapa yang akan dicover Mediplus?
  • Apakah perawatan selanjutnya akan dicover lagi setelah itu?
  • Bisa gak kalo cuma untuk lab doang, atau konsultasi dokter doang, tanpa terus-menerus berobat di situ? (Jadi kalo mau kemo/operasi pindah ke RSCM/Dharmais, soalnya di MRCCC takut mahal.)
Ini yang mau saya tanyain ke MRCCC besok pagi InsyaAllah. Kebetulan Ibu ada jadwal lab, kalo bisa di situ, ya gak usah antri lama di Dharmais :)

Stay tuned ya! InsyaAllah saya update :)

Ini brosur Mediplus (di-klik aja)







**Ibu saya memiliki multiple myeloma sejak tahun 2011, dan rutin kontrol di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Silakan klik menu "Multiple Myeloma" untuk melihat postingan terkait MM. Semoga kita bisa saling mengenal dan saling menguatkan :D

Baca Juga:
Review RS MRCCC Siloam Semanggi
Dirawat di MRCCC Siloam Semanggi

Popular Posts