Friday, March 20, 2015

Cicilan Kredit Tanpa Agunan (KTA) dari Bank

Kemarin sore pas lagi di ATM, saya ngeliat brosur pinjaman KTA sebuah bank. Iseng-iseng, saya ambil aja. Emang sering kan ya brosur-brosur gitu ditaruh situ sama marketingnya, cuma saya gak pernah ambil. Sekali-kali iseng ah pingin liat.

Di dalem brosurnya ada tabel angsuran. Ada jumlah pinjaman, dan jumlah cicilan tiap bulan selama 1-5 tahun. Kita yang pilih berapa lama.

KTA alias Kredit Tanpa Agunan artinya kita bisa pinjam uang ke bank tanpa menyerahkan jaminan apapun (rumah, kendaraan). Cuma, kata orang bunganya mahal.

Penasaran pingin tahu, saya coba menghitung kalau mau pinjam, let’s say 50 juta.

Di brosur ini tipe peminjam dibagi 3 berdasarkan perusahaan/kantor yang:

  1. Sudah bekerjasama dengan bank,
  2. Pembayaran gaji karyawannya melalui bank, dan
  3. Bukan keduanya. (Kayaknya ini nih yang paling mahal.)

Okay. Kategori pertama. Kalo pinjam 50 juta dan kantor saya sudah kerjasama dengan bank, ini cicilan per bulannya:

Bln
12
24
36
48
60
Cicilan
4,601,865
2,514,362
1,826,487
1,488,418
1,290,159
Total
55,222,380
60,344,688
65,753,532
71,444,064
77,409,540
Bunga
10%
21%
32%
43%
55%

Hah! Gilaaaa! Udah kerjasama dan pake rate paling murah aja segini. Gimana yang gak kerjasama??!! Masa ngutang 50 tapi total bayar hampir 80??!!

Ha! Biar gak penasaran, saya ngitung lagi kalo buat yang kategori 2. Kategori karyawan payroll (yang langsung potong gaji, karena gajinya melalui bank itu).

Bln
12
24
36
48
60
Cicilan
4,655,689
2,514,362
1,826,487
1,488,418
1,290,159
Total
55,868,268
60,344,688
65,753,532
71,444,064
77,409,540
Bunga
12%
21%
32%
43%
55%

Lah sama yak. Yang bedain cuma kalo nyicil setahun, golongan ini bayarnya lebih mahal dari yang pertama. Lain-lainnya sama.

Sekarang yang ketiga. Golongan orang bukan mana-mana ;D

Bln
12
24
36
48
60
Cicilan
4,880,507
3,489,764
2,802,079
2,395,523
2,129,431
Total
58,566,084
83,754,336
100,874,844
114,985,104
127,765,860
Bunga
17%
68%
102%
130%
156%

BUSEEEEEEETTTT DAAHH!!!!

Nyekek leheeeerrrr!!! *Napas tersengal-sengal*

Gila gila gilaaaa!!!

Masa balikin hampir 130 juta?!! Itu mah hampir 3x lipetnyaaa!! Minjem setahun sama dua tahun bedanya jauh banget. Dua tahun ke 3 tahun kayak berlipat-lipat lagi.

Hadeeeh.. udah deh, saya udah gak bisa berkata apa-apa lagi. Mahal bangeeettt T_T

Semoga kita semua selalu dikasih kecukupan sama Allahswt. Aamiiin.

Saya gak nge-judge orang-orang yang pinjem uang. Ini saya murni cuman penasaran aja pingin ngitung gara-gara dapet brosur gratis di ATM. Masalah pinjem atau nggak, itu terserah. Masing-masing orang pasti punya pertimbangan sendiri kenapa mutusin ngambil. Jadi, sekali lagi, saya gak nge-judge para peminjam, ya :)  Dan saya yakin mereka juga udah tau konsekuensi pembayaran yang seperti ini.

Okay yang itu udah clear ya :)

Trus lanjut. Kalo di bank lain, saya belom tau gimana. Ini kan baru satu bank aja. Jadi belom bisa banding-bandingin. Tapi, jujur saya udah males. Nyesek banget.

Tapi saya masih penasaran mau tanya-tanya ke bank syariah. Katanya, mereka nerapin hukum Islam. Jadi harusnya lebih fair dan gak memberatkan. Tapi yah, gak tau juga ya. Saya belom bisa ngomong. Mesti liat dulu. (Dan memang ada kritik terhadap perbankan syariah kalo mereka sebenernya cuman 'ganti baju' aja jadi pake istilah-istilah berbahasa Arab, padahal kelakuan sama aja. But we'll see. Mungkin iya, tapi gak setinggi ini. Nanti kita liat insyaAllah.)

Intinya, kalo boleh ngomong, mendingan gak usah minjem deh. Mendingan nabung. Nabung manual kek, investasi reksadana kek, beli emas kek. Jangan sampe kepaksa minjem dan kepaksa bayar hutang plus bunga. Sumpah nyekek leher banget.

Nanti saya update lagi ya InsyaAllah kalo udah ada perbandingan lain. Sementara ini, saya mau istirahat dulu. Pusing liat kenyataan :’(

Nih kalo masih mau liat brosurnya.....

Dadah.... *tiduran sambil menatap kosong ke langit-langit*




Friday, March 13, 2015

Skrining Kesehatan Berdasarkan Usia

Sejak satu tahun lalu, saya dan suami mencanangkan program medical check up rutin tahunan bagi diri sendiri. Tujuannya supaya kami bisa tahu, seberapa sehat sih sebenernya kita-kita ini. Dan supaya kalo ada penyakit, bisa ketahuan dari awal biar bisa cepet ditangani.

Suami ada riwayat keluarga darah tinggi. Saya pun begitu, plus bonus kanker plasma darah. Jadi, dengan riwayat seperti itu, kami sadar bahwa kayaknya lebih baik mulai pola hidup sehat dan monitor kesehatan tiap tahun. (Kalopun ada hasil yang aneh-aneh, mending ketahuan dan ditanganin sekarang pas masih seger buger daripada baru ketahuan ntar pas udah gak bisa berdiri/jalan. Eh tapi InsyaAllah kita semua selalu sehaat. Aamiiin.)

Kami biasa cek ke lab terdekat, seperti Prodia, Parahita, atau Cito. (Ketiga lab ini juga suka dipanggil ke rumah untuk cek rutin Bapak-Ibu kami. Jadi udah biasa.) Biasanya MCU tahunan terdiri dari darah lengkap, urin lengkap, kolesterol dan trigliserida, glukosa, dan EKG. Kami biasanya telepon ketiga lab tersebut untuk bandingin paket MCU paling murah :p Tahun lalu biayanya sekitar 500-ribuan. Tapi sekarang udah naik jadi 820-an. Mahal sih, tapi gapapa lah, setahun sekali ini. Dan demi kesehatan diri sendiri juga :)

Selain MCU tahunan, ada pula tes yang baiknya dilakukan pada usia tertentu. Saya seneng banget bisa nemu ringkasannya di halaman ini. Nih udah saya terjemahin ke Bahasa Indonesia biar enak di mata :D  Ada untuk perempuan dan laki-laki.

Semoga bisa membantu kamu menyibak tabir selubung badan kamu sendiri. (Hahaha apaan siiiiikk xDD)

Kamu juga bisa download filenya di sini.

Screening Test Perempuan

Jenis tes
Usia 18-39
Usia 40-49
Usia 50-64
Usia 65 dan lebih
Tekanan darah
Periksa setidaknya 2 tahun sekali jika tekanan darah Anda normal.

Periksa 1 kali tiap tahun jika tekanan darah antara 120/80 sd 139/89.

Bicarakan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Periksa setidaknya 2 tahun sekali jika tekanan darah Anda normal.

Periksa 1 kali tiap tahun jika tekanan darah antara 120/80 sd 139/89.

Bicarakan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Periksa setidaknya 2 tahun sekali jika tekanan darah Anda normal.

Periksa 1 kali tiap tahun jika tekanan darah antara 120/80 sd 139/89.

Bicarakan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Periksa setidaknya 2 tahun sekali jika tekanan darah Anda normal.

Periksa 1 kali tiap tahun jika tekanan darah antara 120/80 sd 139/89.

Bicarakan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Kepadatan mineral tulang (skrining osteoporosis)
-
-
Bicarakan dengan dokter jika Anda berisiko osteoporosis.
Lakukan tes ini setidaknya 1 kali.

Bicarakan dengan dokter apakah perlu cek ulang kemudian hari.
Risiko osteoporosis meningkat pada perempuan yang berusia lanjut, menopause, bertubuh kecil (di bawah 64 kg), memiliki riwayat keluarga dengan osteoporosis, menstruasi tidak teratur, tidak olahraga rutin, merokok, minum alkohol, serta kurang asupan kalsium dan vitamin D.
Cek kanker payudara (mammogram)
-
Bicarakan dengan dokter.
Mulai usia 50, cek tiap 2 tahun sekali.
Cek tiap 2 tahun hingga usia 74.

Usia 75 dan ke atas, tanya dokter.
Kanker serviks
(Pap test)
Cek tiap 3 tahun sekali jika sudah berusia 21 tahun atau sudah aktif berhubungan seks.

Jika usia 30 atau lebih, lakukan tes pap dan HPV bersamaan tiap 5 tahun sekali.
Lakukan tes Pap dan HPV bersamaan tiap 5 tahun.
Lakukan tes Pap dan HPV bersamaan tiap 5 tahun.
Tanya dokter apakah perlu tes Pap.
Kolesterol
Mulai usia 20, lakukan tes kolesterol rutin jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Lakukan tes kolesterol rutin jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Lakukan tes kolesterol rutin jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Lakukan tes kolesterol rutin jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Anda berisiko terkena penyakit jantung jika: angka kolesterol LDL tinggi, angka kolesterol HDL rendah, angka total kolesterol dan trigliserida tinggi, angka tekanan darah tinggi (>130/85), merokok, memiliki diabetes, kelebihan berat badan, kurang olahraga, punya masalah tidur (termasuk mengorok), lingkar pinggang >90cm. Risiko lain: riwayat keluarga dengan penyakit jantung, depresi, stres, dan mudah panik, kurang tidur, dan berpendapatan rendah (rentan makanan tak sehat dan rokok).
Diabetes
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Kanker kolorektal (dengan tes darah samar pada feses, sigmoidoscopy, atau kolonoskopi)
-
-
Mulai usia 50, lakukan skrining kanker kolorektal.

Tanya dokter jenis skrining yang terbaik untuk Anda, dan seberapa sering.
Lakukan skrining kanker kolorektal hingga usia 75.

Tanya dokter jenis skrining yang terbaik untuk Anda, dan seberapa sering.
Chlamydia
Lakukan tes chlamydia tiap tahun hingga usia 24 jika Anda aktif berhubungan seksual.

Usia 25 dan ke atas, lakukan tes chlamydia jika Anda berisiko tinggi.
Lakukan tes chlamydia jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Lakukan tes chlamydia jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Lakukan tes chlamydia jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Anda berisiko tinggi terkena chlamydia dan disarankan tes chlamydia setiap tahun bila: (1) berusia 25 tahun atau kurang, (2) berusia lebih dari 25 tahun dan (a) memiliki partner seks baru, (b) berhubungan seks dengan lebih dari satu orang, (c) berhubungan seks dengan seseorang yang memiliki partner seks lain, (d) pernah terkena chlamydia atau penyakit menular seksual lainnya, (e) berhubungan seks demi uang atau NAPZA, (f) tidak memakai kondom saat berhubungan seks dengan lebih dari satu partner seks; (3) sedang hamil.
Gonorrhea
Lakukan tes gonorrhea jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Lakukan tes gonorrhea jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Lakukan tes gonorrhea jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Lakukan tes gonorrhea jika Anda aktif secara seksual dan berisiko tinggi.
Anda berisiko tinggi terkena gonorrhea bila: pernah terkena gonorrhea atau penyakit menular seksual lainnya, memiliki lebih dari satu partner seks, berhubungan seks tanpa kondom, berprofesi sebagai pekerja seks, atau menggunakan NAPZA.
HIV
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Lakukan tes HIV setidaknya sekali jika Anda berusia 65 dan belum pernah dites.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Anda berisiko tinggi terkena HIV bila: berhubungan seks tanpa kondom dengan lebih dari satu partner seks; pernah atau sedang menggunakan narkotika jenis suntik; berhubungan seks demi uang atau NAPZA atau dengan orang yang pernah melakukan hal tersebut; berhubungan seks dengan penyandang HIV atau biseksual atau menggunakan narkoba suntik; terkena penyakit menular seksual.
Sifilis
Lakukan tes sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Lakukan tes sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Lakukan tes sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Lakukan tes sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Anda berisiko terkena sifilis jika: perilaku seks Anda atau rekan seksual Anda berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual (al. berhubungan seks dengan banyak orang, tak memakai kondom, atau dengan sesama jenis), Anda pekerja seks, atau Anda berhubungan seks demi uang atau NAPZA.

Ket: Tabel ini adalah terjemahan bebas yang bersumber dari laman http://www.womenshealth.gov/screening-tests-and-vaccines/screening-tests-for-women/ dengan perubahan seperlunya.




Screening Test Laki-Laki

Jenis tes
Usia 18-39
Usia 40-49
Usia 50-64
Usia 65 dan lebih
Aneurisme aorta abdominal
-
-
-
Lakukan tes ini sekali saja jika Anda berusia 65-75 tahun dan pernah merokok.
Tekanan darah
Periksa minimal tiap 2 tahun jika angka tekanan darah normal (lebih rendah dari 120/80).

Periksa setiap tahun jika angkanya berkisar antara 120/80 sd 139/89.

Diskusikan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Periksa minimal tiap 2 tahun jika angka tekanan darah normal (lebih rendah dari 120/80).

Periksa setiap tahun jika angkanya berkisar antara 120/80 sd 139/89.

Diskusikan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Periksa minimal tiap 2 tahun jika angka tekanan darah normal (lebih rendah dari 120/80).

Periksa setiap tahun jika angkanya berkisar antara 120/80 sd 139/89.

Diskusikan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Periksa minimal tiap 2 tahun jika angka tekanan darah normal (lebih rendah dari 120/80).

Periksa setiap tahun jika angkanya berkisar antara 120/80 sd 139/89.

Diskusikan dengan dokter jika angkanya 140/90 atau lebih.
Kolesterol
Mulai usia 25 sd 35, periksa kolesterol jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Usia 35 dan ke atas, periksa kolesterol secara rutin.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Cek kolesterol secara rutin.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Cek kolesterol secara rutin.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Cek kolesterol secara rutin.

Tanya dokter seberapa sering harus cek kolesterol.
Anda berisiko terkena penyakit jantung jika: angka kolesterol LDL tinggi, angka kolesterol HDL rendah, angka total kolesterol dan trigliserida tinggi, angka tekanan darah tinggi (>130/85), merokok, memiliki diabetes, kelebihan berat badan, kurang olahraga, punya masalah tidur (termasuk mengorok). Risiko lain: riwayat keluarga dengan penyakit jantung, depresi, stres, dan mudah panik, kurang tidur, dan berpendapatan rendah (rentan makanan tak sehat dan rokok).
Kanker kolorektal (dengan tes darah samar pada feses, sigmoidoscopy, atau kolonoskopi)
-
-
Mulai usia 50, lakukan skrining kanker kolorektal.

Tanya dokter jenis skrining yang terbaik untuk Anda, dan seberapa sering.
Lakukan skrining kanker kolorektal hingga usia 75.

Tanya dokter jenis skrining yang terbaik untuk Anda, dan seberapa sering.
Diabetes
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
Lakukan tes diabetes jika tekanan darah lebih tinggi dari 135/80 atau Anda tengah mengonsumsi obat penurun tekanan darah (hipertensi).
HIV
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Lakukan tes HIV setidaknya sekali.

Diskusikan tingkat risiko Anda dengan dokter.
Anda berisiko tinggi terkena HIV bila: berhubungan seks tanpa kondom dengan lebih dari satu partner seks; pernah atau sedang menggunakan narkotika jenis suntik; berhubungan seks demi uang atau NAPZA atau dengan orang yang pernah melakukan hal tersebut; berhubungan seks dengan penyandang HIV, gay/homoseksual, atau menggunakan narkoba suntik; terkena penyakit menular seksual.
Sifilis
Cek sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Cek sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Cek sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Cek sifilis jika Anda berisiko tinggi.
Anda berisiko tinggi terkena sifilis jika: perilaku seks Anda atau rekan seksual Anda berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual (al. berhubungan seks dengan banyak orang, tak memakai kondom, atau dengan sesama jenis), Anda pekerja seks, atau Anda berhubungan seks demi uang atau NAPZA.


Ket: Tabel ini adalah terjemahan bebas yang bersumber dari laman http://www.womenshealth.gov/screening-tests-and-vaccines/screening-tests-for-men/index.html dengan perubahan seperlunya.

Thursday, March 12, 2015

Meminta Pendapat Lain

Second opinion.

Kata-kata ini sering kita denger kalo ada temen atau keluarga yang punya kondisi medis serius. Biasanya, second opinion memang akan dicari, terutama kalo menyangkut keputusan besar.

Kenapa perlu second opinion, sih?
  1. Untuk ngebantu kamu ngambil keputusan.
  2. Memetakan (bareng dokter) pilihan treatment yang ada sekarang, atau yang akan dilakukan nantinya.
  3. Merancang skema treatment baru yang belum pernah ada sebelumnya, misalnya kasus kamu ditangani oleh grup dokter spesialis tertentu, atau dibikin program treatment baru, atau kamu disaranin ikut clinical trial. (Ini kalo kondisi kamu berat atau langka, sih.)
Kamu wajar kok minta second opinion ke dokter lain kalo kamu ataupun sang dokter gak yakin sama diagnosisnya. Atau, ada sesuatu dalam penyakit kamu yang perlu ditelusuri lebih jauh. Atau, simply karena kamu punya feeling gak enak ajah, atau ragu-ragu. Second opinion bisa membantu dalam menetapkan keputusan. Biasanya, sih, dokter yang baik akan welkam-welkam aja dan gak akan ngerasa tersinggung. Itu hak pasien, kok :) Gapapaaa banget.

Gak hanya untuk diagnosis penyakit, second opinion juga bisa, lho, kita minta atas tindakan medis atau treatment perawatan, dan juga untuk (uhuk!) perasaan. Beneran kaga boong. Baca aja terus.

Nih ya. Pertama. Second opinion atas diagnosis penyakit bisa kamu minta kalo:
  • Diagnosisnya masih belum jelas. Ini perlu banget. Soalnya, diagnosis yang jelas akan menentukan keberhasilan treatment plan kamu nantinya, dan kesembuhan kamu.
  • Penyakit kamu berat, langka, atau mengancam jiwa. Coba konsul ke dokter spesialis atau subspesialis di bidang itu.
  • Hasil lab kamu belum bisa dibuat kesimpulan, atau kamu harus tes ulang. Coba second opinion dari lab lain.
  • Jenis penyakit udah jelas, tapi stadiumnya belum. 

Dua, minta second op atas tindakan pengobatan atau perawatan yang:
  • Nggak cocok sama kamu. Bisa karena pengobatan atau perawatannya terlalu agresif (cepet, beruntun, efek terlalu berat, terlalu sontak mendadak, dll), atau justru gak agresif sama sekali. Dan bikin kamu ngerasa sakit atau gak nyaman. Soalnya, kedua hal ini harusnya bisa dicocokin sama kebutuhan dan kemampuan kamu sebagai pasien. Bahkan sebenernya kamu pun juga dilibatin sejak dari perencanaan programnya.
  • Perawatan dan pengobatannya gak berhasil. Ini bisa terjadi di tengah-tengah, dan bisa aja karena diagnosis awalnya kurang tepat. Makanya perlu second opinion untuk evaluasi ulang diagnosis dan rencana treatment-nya. Gapapa. Cek ulang aja. 
  • Kamu divonis "gak ada harapan" atau cuma dikasih pereda rasa sakit aja (kayak parasetamol atau panadol). Inget, dalam kondisi apapun, pasti masih ada harapan. Pasti masih ada dokter yang mau ngusahain, InsyaAllah :)
  • Kamu beda pendapat sama dokter apakah perlu ngelanjutin treatment atau nggak.

Nah, selain atas diagnosis dan tindakan/treatment, hal-hal di bawah ini juga bisa jadi alasan kamu cari second opinion di dokter lain. Sekarang baruu kita ngomongin perasaan hahahahaa :))

Silakan minta second op kalo kamu ngerasa:
  • Gak dilibatkan. Semuanya cuma komunikasi satu arah aja. Dokter ngomong ke kamu, dan kamu gak ada kesempatan kasih feedback. Padahal komunikasi antara pasien dan tim dokter dan perawat itu penting. Ini dokter apa tv?
  • Dokter kamu gak bisa diajak ngomong, atau gak bisa ngejelasin kalo ditanya. Gak enak banget kan. Mana bisa tau sakit apa, udah sampe mana, dan bakal diapain kalo gak dijelasin apapun. Padahal, kita lah yang bertanggung jawab dalam mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Kita juga punya, lho, sebenernya, hak untuk mengingatkan tim dokter dan perawat bahwa kita berhak untuk dilibatkan.
  • Efek samping dan hal-hal gak enak yang kamu rasain gak di-manage oleh tim dokter. Kamu sakit di tangan, dibilang gapapa. Bengkak di mana, atau muntah-muntah, dibilang gapapa. Efek samping treatment memang ada, sih, tapi harusnya bisa dikasih apa kek biar reda sakitnya. Rasa sakit dan kawan-kawannya itu sebenernya bisa dikurangin tingkat keparahannya, biar kamu ngerasa lebih nyaman. Ada yang namanya layanan paliatif untuk mengurangi rasa sakit, gejala, atau stres yang kamu rasakan. Bisa berupa obat, akupunktur, atau metode lain. 
  • Kamu gak yakin sama pengalaman dokternya, atau kemampuannya ngambil keputusan, atau caranya memperlakukan kamu. Dokter harusnya punya pendekatan dan pembawaan yang bikin kamu berdua jadi kayak satu tim untuk satu tujuan: kesehatan kamu. 
  • Perasaan kamu gak sreg. Kamu selalu punya feeling kalo adaaa aja yang kurang. Ya udah gak usah dipertahanin. Nyiksa diri dan pikiran. Lebih baik pindah dokter aja. 
Hmm... Nulis bagian ini jadi inget pengalaman dirawat di RS X di Jakarta Selatan. Baca di postingan ini deh. Seru banget, hahaha x)))

Baiklaaah. Intinya, kamu bisa minta second opinion dalam tahap apapun.  Kalaupun opini kedua-ketiga akhirnya sama dengan yang pertama, itu gak percuma kok. Kan kamu jadi bisa yakin dan tenang dengan memahami bahwa dokter sudah mengambil pilihan terbaik untuk kondisi kamu sekarang ini. Ya gak? :D

Tapi inget ya. Cari second opinion-nya KE DOKTER. Bukan ke dukun atau gaib-gaib lainnya. Udah uang habis, bukannya sembuh malah tambah parah ntar :)

Semoga kita semua selalu sehat! Aamiin :D

The Power of Forgiveness

Abis jalan-jalan nemu infografik bagus tentang memaaafkan.

Ternyata banyak manfaat kesehatan yang kita dapat dari memaafkan orang lain.

Ini kayak self-reminder untuk saya, yang kadang masih suka keinget-inget kejadian atau orang yang gak ngenakin.

Menyimpan kekesalan atau gak ikhlas sama orang bisa membawa dampak negatif.

Perasaan benci sebab tak diperlakukan semestinya/gak adil akan berpengaruh pada sistem peredaran darah dan jantung, juga sistem saraf. Riset menunjukkan, orang-orang yang gak maafin atau belum ikhlas detak jantungnya lebih cepat, tekanan darah naik, dan otot-otot jadi tegang.

Nih manfaat memaafkan dan ikhlas:

Secara psikis dan sosial:

  1. Terhindar dari depresi
  2. Self-esteem lebih tinggi
  3. Lebih banyak temen
  4. Punya hubungan pertemanan yang lebih sehat dan lebih deket sama orang
  5. Usia pernikahan lebih awet

Secara kesehatan tubuh:

  1. Tensi darah gak naik
  2. Gak merasa stres, cemas, dan kasar
  3. Jadi gak terlalu berisiko kena penyakit yang dipicu stres
  4. Sistem kekebalan tubuh jadi lebih baik
  5. Risiko kena penyakit jantung lebih rendah
  6. Risiko ketergantungan NAPZA lebih rendah
  7. Kesejahteraan spiritual dan psikologis lebih tinggi

Satu kalimat yang paling ngena buat saya adalah:
Forgiveness brings you peace that helps you go on with your life.
Udah, langsung aja klik gambar di bawah biar lebih 'ngresep' ngeliatnya.

Semoga bermanfaat :)

Popular Posts