Friday, August 29, 2014

4 Alasan Dana Talangan Bukan Pilihan

Boleh ngutang gak sih untuk daftar haji? Biar cepet. KTA atau dana talangan gitu misalnya.

Itu solusi cepetnya sih. Tapi kalau saya prefer nggak.

Buat yang belom tau, dana talangan haji adalah produk perbankan syariah yang bertujuan nalangin orang-orang yang mau daftar haji. Alias pinjaman, sih, sebenernya. Program ini memungkinkan kita mendaftar haji detik itu juga. Jadi kita bisa langsung dapat porsi haji. Jumlah dana talangan bisa dipilih, mulai 5-20 jutaan. Kalau KTA udah pada tau kan ya. Itu pinjaman plus bunga.

Kenapa saya kurang berpihak pada mereka, inilah sebabnya:

1.  Itu hutang. 
Sebisa mungkin, hindari hutang. Apalagi ini ibadah.

2.  Mahal. 
Ada ekstra biaya yang harus dibayar di depan. Dalam dana talangan, pendaftaran haji dilakukan sekaligus saat itu juga oleh bank. Biaya pendaftaran ini mahal. Bisa sampe 5 jutaan. Semua dibayar di muka. Setelah itu, pinjaman dicicil setahun tanpa bunga. Dalam setahun, semua harus lunas. (Berat, kan!) Kalau KTA, bisa diperpanjang masa cicilannya. Tapi, kena bunga 18-19% per tahun. Aka riba.

Mau dana talangan atau KTA, saya pikir sama aja sih. Soalnya gini. Pendaftaran haji di bank itu gratis. Kalo dana talangan harus bayar pendaftaran haji 5 juta, itu sama aja kayak bayar bunga pinjaman KTA. (Sayang, ya. Label ‘syariah’-nya jadi cuma kayak kosmetik untuk menyamarkan bunga pinjaman. Yang mana bunga pinjaman itu riba.)

3.  Belum jelas halal-haram-nya.
Kontroversi ini udah lama. Dari yang saya baca-baca, intinya, program ini menggabungkan antara pinjaman dengan jual-beli. Dalam Islam, ini nggak boleh. Kalo mau pinjaman, ya pinjaman aja. Jual-beli, ya jual beli aja. Jadi satu produk untuk satu tujuan. Sementara, program ini menggabungkan 2 tujuan itu. Pinjaman dana talangan itu sendiri, dan jual-beli jasa pengurusan administrasi pendaftaran haji. Karena digabung, makanya jadi nggak boleh. Kalau program ini murni pinjaman, atau murni jasa pendaftaran haji, baru boleh.

Kontroversi lain adalah apakah si peminjam dana tergolong mampu dan wajib haji, atau tidak. Berhutang kan artinya nggak punya uang. Nggak punya uang, berarti nggak wajib haji dong. (Which leads to another controversy --in my mind-- bahwa sebenarnya pasti mampu dan punya uang. Cuma nggak pernah dialokasikan aja.)

Oh ya, on a side note, dana talangan inilah yang bikin antrian haji Indonesia memanjang jadi lebih dari 11 tahun.


4.  Kalau di tengah jalan kita meninggal, kita ninggalin utang. Ngerepotin keluarga.

Udah itu aja.

Intinya, sih, saya penganut taat prinsip menabung. Yang kalo belom punya uang, ya ntar dulu aja. Dibanding harus lunasin 20 juta kepaksa sama bank (plus biaya-biaya lain), saya pilih nabung sendiri. Toh jangka waktunya sama. Selain itu, bagi saya berhasil menabung itu fulfilling banget. Bikin hati senang dan puas. Beda aja rasanya.

Tapi semua kembali ke kebutuhan dan pribadi masing-masing. Tiap orang beda-beda. Begitu pula pilihannya. Keuntungan pinjaman instan pastinya ada, yakni segi waktu. Well, you win some, you lose some.

Apapun itu, semoga kita selalu diberikan yang terbaik dari Allahswt. Aamiin! :)

Wednesday, August 27, 2014

Merencanakan Pergi Haji

Di postingan sebelumnya udah dibahas mengapa kita seharusnya mampu berhaji, dan mengapa lebih cepat lebih baik. Sekarang kita bahas cara merencanakan biayanya, yuk. Salah satunya dengan menabung.

Gambar dari sini, sini.

Setoran awal BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) ditetapkan sebesar Rp25 juta. Inilah target awal yang harus kamu capai.

Misal mau daftar haji tahun depan (yang artinya kamu berangkat haji 12 tahun lagi. Nah itung deh umur kamu berapa sekarang. Makin muda makin baik.) Berarti 25 juta harus udah ngumpul dalam setahun. Sebulan kamu harus bisa nabung Rp2.083.334.

Kegedean? Berarti panjangin lagi masa nabungnya. Misalnya 2 tahun. Berarti sebulan kamu mesti nabung Rp1.061.667. Nih saya bikinin deh sampe 9 tahun.

Ngumpulin 25 juta
Biar berangkatnya
Sebulan nabungnya
1 tahun
12 thn lagi
2.083.334
2 tahun
13 thn lagi
1.061.667
3 tahun
14 thn lagi
694.445
4 tahun
15 thn lagi
520.834
5 tahun
16 thn lagi
416.667
6 tahun
17 thn lagi
347.223
7 tahun
18 thn lagi
297.619
8 tahun
19 thn lagi
260.417
9 tahun
20 thn lagi
231.481


Buseehh, ini beneran nunggunya sampe 11 tahun?
Beneran. Bahkan bisa lebih. Saat ini aja DKI Jakarta antriannya sampai 2027.

Okee balik ke itung-itungan tabel.

Kayaknyaaa yang masih masuk di budget itu yang 7 sampe 9 tahun ya? Ahahahah. Gapapa. Itu cuma angka kasar. Pada kenyataannya nanti, pas kamu udah mulai nabung, kamu akan terkaget-kaget sendiri, betapa lancarnya rejeki yang dikasih ke kamu untuk menuhin target itu :D Sumpah! (Eh salah, gak boleh sumpah. Maksudnya, InsyaAllah!!) Dan betapa kreatifnya kamu untuk mencapai target. Nanti akan banyak keajaiban-keajaiban yang bikin rejeki kamu tiba-tiba jadi banyak :D

Enak kan kalo udah ditulis gini. Jadi bisa kebayang dan masih bisa dihitung realisasi kapan berangkatnya. 

Yang umur 30-an, mending cepetan buka tabungan haji. Buruan. Bank tutup jam setengah tiga. Cepet kejar dulu deh target 25 juta buat setoran awal. Inget, yang penting dapet nomor porsi dulu. Transfer separuh kekayaan kamu ke situ. Tiap ada duit, tabungin. Ada duit, tabungin. Tahan dulu deh keinginan untuk seneng-seneng. Toh sebentar doang. Abis itu masih ada 11 tahun lagi untuk seneng-seneng sambil ngelunasin sisa biaya hajinya. 

Bagi yang sekarang udah ada 25 jutanya, langsung daftarin deh. Yang penting dapet porsi dulu. (11 tahun lho!) Dan pengalaman saya, misal ada dua orang yang daftar di hari dan jam yang sama, keduanya bisa saja nomor porsinya tidak berurutan. Sebab, sangat mungkin tersela orang lain. Misal, nomor porsi yg urut kan biasanya 77 dan 78. Nah ini bisa jadi 77 dan 79, atau 77 dan 80. Padahal daftarnya barengan. Jadi, lebih cepat daftar insyaAllah lebih baik.

Yang penting kemauan, dan disiplin pengeluaran. Tegas mutusin mana kebutuhan, mana kemauan. Barang yang kalo gak dibeli gak bikin kita sakit secara fisik, atau gak bikin kita mati, itu namanya kemauan. Skip dulu deh untuk sementara.

Oh ya. Apakah di antara adik-adik ini ada yang umurnya masih 20-an? Good. Start earlier than us.


Ribet banget mesti nabung segala. Kan sekarang ada dana talangan haji. Lebih cepet, dan bisa langsung dapet nomor porsi.

Saya sih gak prefer ambil dana talangan. Selengkapnya baca di sini, deh. Lagian sama aja, kok. Sama-sama nunggu 11 tahun :D


Sebelas tahun nunggu itu lama banget, ya. Trus saya ngapain, dong?

Ya nikmatin hidup aja. Makan, nonton, business as usual. Terkagum-kagum ngeliatin nomor porsi haji juga silakan :D  Itu salah satu milestone achievement kok :D Sukur-sukur bisa nambah kegiatan ibadah. Shalat sunah, banyak dzikir dan sedekah, yang kecil-kecil dulu aja. A journey of a thousand miles begins with one small step. Sukur-sukur yang masih jomblo bisa ketemu sama jodohnya. Biar barengan pergi haji dan barengan dunia-akhirat. Aamiin!

Sambil juga nabung lagi :) Biaya haji 2014 sebesar Rp33.799.500. Bulatkan aja jadi 40 juta. Pertama, buat jaga-jaga kalo biayanya naik pas kita berangkat. Kedua, buat dana persiapan berangkat.

40 jt – 25 jt yang udah didaftarin = 15 juta.
Ini jumlah yang mesti kita capai dalam 11 tahun.

Lebih ringan, kan. Setahun cuma sejutaan.

Oh ya. Satu lagi yang harus diinget. Sebelas tahun masa tunggu ini cuma perkiraan. Jangan jadi males, justru malah harus makin semangat daftar hajinya. Segala hal bisa terjadi, termasuk penambahan kuota.  Siapa tau tahun depan ada penambahan kuota 300% dan keberangkatan kita dipercepat. Jadi 3 tahun, misalnya. Siapa tau, kan?

Jangan lupa cek website haji atau telfon-telfon kantor Depag tempat kamu daftar setiap tahun. Kalo jadi dimajuin berangkatnya, jumlah tabungannya nanti ditambahin ya :)

Dengan perencanaan keuangan yang baik, tujuan-tujuan hidup kita bisa lebih mudah diatur, dan dicapai. Termasuk impian pergi haji. Eh, salah. Ke-WAJIB-an pergi haji :)

Good luck :) 
--

TIPS
  1. Buat rekening gaji kamu men-transfer otomatis ke tabungan haji tiap bulan. Set tanggalnya tepat sehari setelah gajian, biar tuh uang gak kemana-mana. Kamu juga terhindar dari denda kalo ternyata saldonya gak cukup. Transfer mingguan atau 3-hari-an juga oke.
  2. Top-up tabungan haji kamu tiap abis terima uang. Uang apapun. Dan berapapun. Dengan begini, target 25 juta akan lebih cepat tercapai.
  3. Pake internet banking. Kamu bisa cek saldo kapan aja dan angka-angka itu akan bikin kamu termotivasi untuk mencapai target.

Monday, August 25, 2014

Kita Seharusnya Mampu Pergi Haji

Kebanyakan orang merasa belum mampu pergi haji karena merasa kebutuhannya masih banyak yang belum terpenuhi. Apalagi naik haji. Jadi, lebih baik uangnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari aja. 

Setidaknya, itu yang bisa saya simpulkan dari dua orang terdekat yang saya mintai pendapatnya. Saudara saya, misalnya. Masih pingin beli mobil. Terus temen saya, merasa uangnya lebih baik untuk bayar sekolah. Berarti, masalahnya ada di finansial.

Hmm, agak disayangkan sih. Soalnya gini. Kebutuhan itu akan tetap ada. Mau tahun depan, lima tahun, sepuluh, sampe lima belas tahun lagi, kebutuhan akan tetap ada. Justru, kebutuhan akan bertambah seiring tumbuhnya keluarga. Anak masuk sekolah, bayar uang muka jutaan. Abis itu beli buku dan seragam. Gak lama, adiknya masuk sekolah. Pengeluaran gede lagi. Tahun depannya kuliah. Tambah gede. Itu baru anak. Belom cicilan rumah. Trus nanti genteng bocor, tembok retak-retak: renovasi rumah. Tahun depan, anak tertua menikah. Abis itu adiknya. See? Gak abis-abis, kan?

Sekarang kenapa gak mikir gini: Kebutuhan akan terus bertambah setiap tahun. Kalo saya gak mulai mengalokasikan uang untuk pergi haji dari sekarang, lalu kapan lagi?

Kenapa sih, Wid, kamu maksa banget untuk pergi haji? Kebutuhan dan preferensi orang beda-beda, tau.

Iya, saya tau. Tapi pergi haji itu kan rukun Islam kelima. Wajib bagi yang mampu. WAJIB lho. 

Kan bagi yang mampu. Gue kayaknya belom mampu, deh.

Belom mampunya? Mampu kan artinya bisa, dan sanggup. Dari segala segi kayaknya kita-kita ini InsyaAlah bisa dan sanggup-sanggup aja deh.

1.      Mampu secara finansial
• Sanggup beli ponsel di atas harga sejuta
• Sanggup jalan-jalan, makan-makan, dan nonton
• Sanggup beli baju, celana, sepatu di atas Rp200.000,- per item
• Sanggup beli tiket event lari atau event konser
• Sanggup beli kredit games
Semuanya plus macem-macem dalam sebulan aja bisa lebih dari sejuta. Alokasiin dong. Dikiiit aja buat pergi haji. Kan sayang banget. Bank-bank itu pada baik-baik kok. Mereka mau nerima setoran haji yang cuma 100rb aja tiap bulan.

2.      Mampu secara fisik
Sekarang kita lagi ada di sekitar usia 20-30-an. Ini nih umur-umur keemasan kita. Fisik lagi bagus-bagusnya. Lagi kuat-kuatnya.

Sayang banget kan kalo harus nunggu tua? Nah makanya yuk rencanakan. Kalo kita tau kemampuan nabung minim, masa nabungnya dimulai lebih awal. Dan tau gak, nanti Allah akan mudahkan segalanya. Percaya deh.

Kedua, daftar antrian haji itu panjang banget. Gak cuma 3-5 tahun. Tahun 90an mungkin iya. Sekarang SEPULUH tahun bahkan ada yang LEBIH! Ini nih yang bikin kita mesti cepet-cepetan. Kita bakal jadi 10 tahun lebih tua dari mulai daftar sampe berangkat! Setau saya porsi haji Indonesia dibatasi cuma 200.000 orang per tahun. Kita akan keselak oleh jutaan orang lainnya dalam waktu singkat.
Nih angkanya:
  • Dalam satu bulan ada 40.000 orang Indonesia mendaftar haji.
  • Dalam 1 tahun, total 500.000 orang. (udah 2,5x lipat limit porsi haji tahunan Indonesia)
  • Yang udah daftar haji dari 2001-2013 mencapai 4.998.499 orang.
  • Yang masih nunggu antrian keberangkatan sebanyak 2,2 juta orang. Source

2.200.000 dibagi 200.000 = 11 tahun.

Gak percaya? Klik di sini untuk liat waiting list berangkat haji. DKI Jakarta udah sampe 2027. Luar biasa kan.

Nah makanya. Yang penting dalam per-haji-an itu adalah kita dapet nomor porsi dulu.

Nomor porsi adalah no urut antrian yang menentukan tahun berapa kamu pergi haji. (Yang 11 tahun kemudian itu.) Harganya Rp25juta ajah di tahun 2014. Jadi, kalo pingin daftar naik haji, ini tujuan kita yang pertama. Ngumpulin 25 juta rupiah. Makin cepet kamu ngumpulin, makin cepet kamu dapet porsi, makin cepet pula kamu berangkat.

Kedengerannya gede, ya, 25 juta. Gapapa. Makanya yuk direncanain dengan baik. Baca lebih lengkap di postingan selanjutnya ya :)

Saturday, March 8, 2008

Korek Api



Di sini ada lilin. Di kamar sebelah juga ada. Sejak tadi sore lampu mati. Semua ruangan gelap, serasa di rumah hantu. Rumah-rumah gelap bagai di kota mati. Hanya ada bulan bulat yang bersinar putih di langit hitam.

Aku berjongkok sambil menyalakan lilin di kamar tidur. Api kecil membakar separuh batang korek api di tanganku. Ujung korek malang itu hangus dan bengkok ke bawah. Kutiup-tiup dan kupegang ujung yang hangat itu, agar api berjalan dan menghitamkan ujung satunya. Ibu sudah membeli sebungkus lilin tadi sore, jadi aku tinggal memasang satu di tiap ruangan.

Aku punya dua ritual saat menyalakan lilin. Yang pertama adalah memasang lilin di pojok kiri ruangan, di dekat pintu. Ada lima pintu di rumahku yang berderet dan segaris, dan jika aku berdiri di pintu paling ujung, semua lilin-lilin itu membentuk barisan cahaya yang indah.

Ritual kedua adalah yang kulakukan tadi. Menghanguskan batang-batang korek api. Sayang kalau mereka langsung ditiup setelah baru dinyalakan. Rasanya seperti memotong hidup seseorang yang baru dimulai. Memang batang korek bukan orang. Dia hanya benda mati. Tetapi, biarpun ia hanya sebatang korek, aku tak mau menyia-nyiakan hidupnya. Aku pasti berusaha keras menjaga api agar tak padam, hingga seluruh batang korek itu hangus dan bengkok.

Kupikir, korek tak seharusnya dibedakan dengan lilin, yang baru boleh mati setelah seluruh batangnya habis dimakan api. Banyak orang memiliki cita-cita hidup seperti sebuah lilin. Mereka ingin memberi cahaya bagi orang lain hingga sumbunya habis. Kudengar bahkan Ibu Teresa menganut motto mulia itu. Tetapi mengapa tak pernah ada seorang pun yang bercita-cita hidup seperti sebuah korek api? Apakah derajat korek kalah mulia dari lilin? Sepertinya tidak juga. Malah menurutku, koreklah yang lebih mulia. Ia memberi api kehidupan kepada lilin, padahal ia harus menanggung derita. Ia rela tubuhnya dihantam dan diseret berkali-kali sepanjang pinggiran kotak. Setelah itu kepalanya terbakar. Saat api menyala, ia memberikan kehidupan itu kepada lilin. Kehidupan yang susah payah ia dapatkan. Sudah itu ia ditiup, dan dibuang begitu saja. Sungguh malang nasibnya. Mirip seperti orang yang dimanfaatkan orang lain.

Menurutku, korek mirip figur ibu bagi sebuah lilin. Ia akan selalu melupakan hidupnya sendiri demi nyawa anaknya. Tak peduli dihantam berkali-kali, diseret sampai putus, atau mati di tengah jalan, ia akan selalu mencurahkan hidupnya kepada sang anak. Bagaimanapun caranya, anak itu harus tetap hidup. Jika korek bisa bicara, pasti ia berkata ‘Biarlah aku yang mati, asal anak kesayanganku selamat sentosa. Aku tak minta imbalan. Apalagi ketenaran.’

Orang-orang bisa saja menganggap jasa si korek tak setara dengan jasa si lilin. Namun, perjuangannya terbukti tak sia-sia. Ia berhasil membuat ‘anak’-nya menjadi sosok besar yang dikagumi semua orang. Bukankah amat mirip dengan cita-cita setiap ibu di muka bumi?

Maka dari itu, aku tak suka meniup sebatang korek api.

- -
06 Desember 2007, 16:33:05
photo by Peter Dazeley, from gettyimages.com

Friday, March 7, 2008

Gandhi is So Digging Teresa

Siapa idola kamu?

Di Sabtu siang yang membosankan, dosen tau2 nanyain pertanyaan itu. Mati gue. Mana pernah gue mikirin idola!

Punya idola itu ada baiknya. Akan ada inspirasi yang bisa dibangkitkan dari orang itu, lanjut si dosen.

Katanya, dulu orang2 seangkatannya pasti ngidolain Gandhi. Wuih… klasik bener. Gandhi yang kepalanya botak, berkacamata, dan sedang tersenyum. Tangannya tertangkup di depan dadanya yang terbalut pakaian (mirip) ihram. Ahimsa, swadesi, dan (satu lagi apa gue lupa.)

Ngomong-ngomong Gandhi, gue jadi kepikiran Bunda Teresa. Entah kenapa dua orang itu selalu gandengan aja gitu dalem otak gue.

Mungkin seharusnya mereka kawin aja.

Terus mereka punya anak buanyak, dan semuanya punya LSM masing-masing. Ada yang khusus buat orang miskin, ada yang buat yatim piatu, orang cacat… Ada yang buat membiayai kredit untuk negara2 miskin yang kelaparan, atau kredit rumah buat yang ngga punya rumah kayak model2nya si Yusuf-Yusuf yang menang Nobel Prize itu. (Yusuf-Yusuf aja, emang lo pikir tetangga lo…)

Berikut percakapan khayalan gue antara Mother Teresa (MT) dengan Gandhi (G) :

Mother Teresa : Ndhi, abis bantu2in orang, kita ngapain lagi?
Gandhi : Mmm…belum ada rencana sih.
Mother Teresa : Oh gitu... Mmmm… Oh ya, by the way, menurut kamu, kita bisa tukeran baju ngga?
Gandhi : Emang kenapa?
Mother Teresa : Mmm…abis lama2 aku bosen juga, stok bajuku cuman ini-ini aja. Putih garis pinggir biru. Kamu juga sekali2 perlu ganti gaya lho!
Gandhi : (memandangi bajunya sambil tersenyum) Ah, tapi ini seksi, lagi. Lebih user friendly! Akses mudah, sekali buka langsung jadi. (Kedip)
Mother Teresa : [sempet mikir sekilas: Dasar pervert! Is he flirting on me?!! Tapi ia segera mengalihkan pembicaraan.] Mending kita jalan-jalan sambil lihat-lihat baju, yuk! Kali2 aja ada yang cocok.

Dan pergilah mereka bersama ke Tanah Abang, dengan saling bergandeng tangan. Sesampainya di sana, mereka memasuki tiap kios dan mencoba-cobakan bahan pakaian ke tubuh mereka. Mereka nampak sangat bahagia.

MT : Aku suka yang bunga-bunga merah muda ini, Ndhi! (memeluk bahan itu ke pipi sambil tersenyum)
G : Kamu cantik pakai itu (tersenyum tulus)
MT : Kalo yang oranye ini?
G : Itu juga bagus (tersenyum)
MT : Aku beli dua, Mbak. (katanya kepada si penjual)
G : Eh, eh, nggak, nggak! Udah, biar aku yang bayar.
MT : Eeehh..ngga usah Ndhi, aku bisa bayar sendiriii..
G : Udah, udah, anggep aja ini hadiah dari aku.
MT : Bener, nih?
G : Iya aku serius.
MT : Makasih lho. [menerima baju dari kasir dengan tersipu-sipu]
G : Nanti malam kamu ke mana?
MT : Mmm… yah seperti biasa, aku di rumahku ngurus anak-anak.
G : [membawakan belanjaan] Kamu selalu punya waktu untuk orang lain. Terkadang kamu juga perlu waktu untuk diri kamu sendiri, lho.
MT : [tersenyum] Nggak papa. Aku senang kalo bisa bikin orang lain senang. [pause] Kamu tahu lilin?
G : Iya, tahu.
MT : Lilin itu menerangi sekelilingnya, meskipun ia tahu: saat waktunya tiba nanti, sumbunya akan habis, dan ia akan mati.
G : [mikir dalem hati] Wow! This girl is deep!
MT : Aku ingin jadi seperti lilin itu. Aku ingin menerangi sekelilingku sebelum sumbuku habis, Ndhi.
G : Kamu sudah melakukannya, sayang. [tersenyum]
MT : [balas tersenyum] Makasih, Ndhi.

Saat itu menjadi momen yang paling indah bagi Gandhi & Teresa. Untuk pertama kalinya, mereka membeli bahan baju beraneka warna. Ini pengalaman yang baru bagi keduanya. Mereka sangaaaaat bahagia.

Malamnya, Gandhi mengajak Teresa makan malam. Berdua, mereka duduk di tepi pantai, di meja yang diterangi dua buah lilin. Gandhi mengatakan, lilin-lilin itu menyimbolkan kebaikan hati Teresa. Walau hanya ada satu Teresa, tapi cahaya yang dipancarkannya ada dua kali lipat. Teresa amat bahagia.

Dua minggu kemudian, Gandhi & Teresa menikah. Mereka mempunyai puluhan anak-anak kembar, yang ketika dewasa, semuanya menyayangi orang tak mampu dan orang cacat. Gabungan prinsip kasih sayang Teresa dan prinsip kemandirian Gandhi telah menjadikan anak-anak itu tumbuh menjadi anak yang berkepedulian sosial sempurna.

Sepuluh anak kembar pertama memiliki rumah yang besar, yang akhirnya menjadi rumah kasih sayang dan pembangunan keterampilan untuk orang-orang berkebutuhan khusus.

Dua belas anak kembar kedua mengabdikan diri dan rumah mereka untuk membesarkan anak-anak tak berorangtua.

Sedang delapan anak kembar yang terakhir memberikan kredit rumah mungil, khusus untuk para pengemis yang tak punya rumah.

Gandhi, Teresa dan dua puluh anak kembarnya pun hidup bahagia selama-lamanya.



Tamat.

- -
02 Mei 2007, 13:10:01

Popular Posts